Jangan Terlena, PDB Meroket Bukan Jaminan Rakyat Hidup Enak
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah diminta jangan langsung jumawa sama angka Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang tembus 4,7 triliun dolar AS di 2024 ngelewatin Perancis dan Inggris. PDB Perancis mencapai 4,36 triliun dolar AS dan Inggris 4,28 triliun dolar AS. Tapi jangan lupa, itu lebih karena jumlah penduduk kita yang seabrek, bukan karena produktivitas yang makin cetar.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat Indonesia Economic Summit (IES) 2025 di Jakarta bilang kalau sekarang Indonesia berada di posisi ke-8 dunia soal PDB. Menurut dia, catatan ini bikin RI memiliki peran peting di belahan bumi bagian selatan.
Dua juga bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,03 persen pada 2024 terbilang stabil dibandingkan dengan negara lain, seperti AS, Tiongkok, Brasil, hingga negara kawasan ASEAN.
Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono menyampaikan proyeksi PDB per kapita Indonesia mencapai 30.300 dolar AS di 2045. Angka itu meningkat dari 4.870 dolar AS di 2023. Kelas menengah juga katanya bakal melonjak jadi 70 persen pada 2045, naik drastis dari 17 persen di 2023.
"Seiring ekspansi ekonomi, pertumbuhan populasi juga akan terus berlanjut dengan jumlah penduduk diproyeksikan akan mencapai 324 juta jiwa pada 2045," kata Thomas, dalam Indonesia Data and Economic Conference 2025 di Jakarta, Selasa.
Nah, meski angkanya bagus, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko ngingetin kalau PDB tinggi bukan jaminan rakyat hidup enak. PDB gede tapi kalau pemerataan pendapatannya amburadul, ya sama aja bohong. Harus liat juga indikator lain, kayak kesehatan, pendidikan, pengangguran, indeks korupsi, sampai sistem pemerintahan yang beneran bersih.
"Sistem pemerintahan yang bersih juga menjadi ukuran kesejahteraan masyarakat,"tandas Suhartoko.
Sementara itu, dari Yogyakarta, pengamat ekonomi STIE YKP, Aditya Hera Nurmoko bilang PDB kita yang tinggi ini lebih karena jumlah orangnya banyak, bukan karena kerjaan atau industri kita yang makin produktif. Faktanya, PDB per kapita kita masih jauh di bawah Malaysia atau Singapura.
Aditya juga nunjukin kalau produktivitas tenaga kerja Indonesia masih ketinggalan dibanding negara-negara ASEAN lainnya. Kita masih kebanyakan ngandelin sektor komoditas dan konsumsi, sementara sektor industri berteknologi tinggi masih jalan di tempat.
Satu lagi, ketimpangan ekonomi antarwilayah juga PR besar. PDB masih didominasi Pulau Jawa, sementara daerah lain masih seret infrastruktur dan akses ekonomi.
Makanya, kata Aditya, pemerintah mesti lebih fokus ningkatin daya saing ekonomi, bukan cuma ngejar angka PDB. Investasi di sektor industri bernilai tambah tinggi, peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan tenaga kerja, dan percepatan pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa wajib masuk prioritas.
"PDB tinggi itu bagus, tetapi jangan sampai kita terbuai dengan angka-angka tanpa melihat kualitas pertumbuhan ekonomi," kata Aditya.
Dia juga nambahin, Indonesia kudu move on dari ekonomi berbasis konsumsi dan komoditas ke ekonomi yang lebih kece, berbasis inovasi dan teknologi, biar bisa bersaing di kancah global.
0 Comments





- Perdagangan Global Lagi Panas, Posisi Rupiah Makin Anjlok
- Harris Hotel Cibinong City Mall Bogor Hadirkan Iftar Buffet All You Can Eat, Buka Puasa Makin Seru!
- Daftar Artis Indonesia yang Masuk Lineup Lagi-Lagi Tenis Internasional Lawan Selebriti Korea
- Panglima TNI Rotasi dan Mutasi 86 Perwira Tinggi TNI, Ini Daftar Lengkapnya
- Iskandar Widjaja, Pemain Biola Internasional Berdarah Indonesia Siap Bikin Pecinta Musik Klasik Baper di Konser Jakarta
- Kuliner Nusantara Favorit Pemain Rahasia Rasa, Jerome Kurnia Suka Sate Kelopo Hingga Makanan Ini Bikin Nadya Arina Ingat...
- Pertamina Gelar Pelatihan Pembalap Muda Tanah Air Bareng VR46 Riders Academy
- Konser Rossa Here I Am Bakal Digelar di 3 Negara, Ini Jadwal Lengkapnya
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!