Butuh Terobosan khusus Guna Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

D
Diapari Sibatangkayu
Penulis
News
Butuh Terobosan khusus Guna Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
- (Dok. istimewa).

JAKARTA- Penetapan pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 jangan cuma ngasal. Jika hanya bermodal kebijakan penggelontoran bantuan sosial (bansos) dan semacam operasi pasar pada hari besar tertentu, sasaran itu baka sulit dicapai.

"Kebijakan macam ini bersifat temporer dan hanya berdampak jangka pendek. Tak cukup untuk menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," kata Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, pada Senin (3/3).

Ia tak menyangkal bahwa pemberian stimulus diskon pada hari besar keagamaan memang bisa membantu. Namun itu tak bertahan lama karena pertumbuhan yang dihasilkan dalam waktu dekat bakalan meredup.

"Pada situasi daya beli masyarakat yang lemah, bansos dan subsidi lebih perperan sebagai komplemen yang cepat menguap. Itulah sebabnya stimulus yang bersifat temporer dan konsumtif tak cocok jadi andalan mencapai tertumbuhan ekonomi apalagi hingga dua kali lipat," paparnya.

iklan gulaku

Menurut dia, yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan yang ambisius itu ialah kebijakan yang produktif, bukan yang selalu berangkat dari sisi pengeluaran. Jika pemerintah ingin menggunakan stimulus, seharusnya diarahkan ke sektor-sektor yang produktif dengan perspektif jangka panjang dan komprehensif," ujarnya.

Dalam pandangan Aloysius, target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen tampaknya tidak disertai kalkulasi yang matang, apalagi masih banyak faktor penghambat pertumbuhan yang dibiarkan tanpa solusi konkret.

"Yang justru makin tampak adalah bahwa target pertumbuhan ini tidak disertai perhitungan yang realistis. Bahkan, masih ada kesan bahwa berbagai penghalang pertumbuhan, seperti korupsi yang makin transparan, tetap dibiarkan terjadi."

Ia mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang diterapkan harus lebih berpihak pada produktivitas dan pembangunan jangka panjang, bukan sekadar upaya instan untuk merangsang konsumsi. "Tanpa perubahan fundamental dalam kebijakan ekonomi, target ambisius 8 persen pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi yang nyata."

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya Jakarta, YB. Suhartoko mengatakan, kontributor pendapatan nasional terbesar saat ini adalah konsumsi, sekitar 55 persen. Sedangkan terhadap pertumbuhan ekonomi konsumsi menyumbang sekitar 4,94 persen pada 2024. Kontribusi itu tidak mengalami perubahan berarti dalam 10 tahun terakhir ini. "Artinya, untuk mendorong pertumbuhan menjadi 8 persen perlu upaya terobosan," papar Suhartoko.

Dari sisi APBN, katanya, peran kebijakan fiskal yang ekspansif masih sulit diharapkan akibat sulitnya menggenjot penerimaan pajak dan potensi penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam dua tahun ke depan.

Menurut dia, sumber pertumbuhan lain adalah investasi namun investasi Indonesia kurang efisien. Dengan ICOR (Incremental Capital Output Ratio), sekitar 6,33 maka untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen secara sederhana dibutuhkan pertumbuhan investasi sekitar 48 persen. Oleh karena itu, tantangan jangka pendeknya adalah menurunkan ICOR. "Peningkatan ekspor juga suatu terobosan, terutama dari sisi kuantitas dan keberlanjutan ekspor. Namun, diversifikasi barang ekspor dan tujuan ekspor perlu segera dilakukan."

Masalah Struktural

Sementara itu, peneliti ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet mengatakan, target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 sangat ambisius, mengingat tren pertumbuhan Indonesia dalam dekade terakhir berkisar di angka 5 persen.

Tantangan eksternal seperti perlambatan perdagangan global, dan ketegangan geopolitik semakin memperumit upaya akselerasi ekonomi. Di sisi lain, tantangan domestik seperti pemulihan konsumsi yang lambat dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) menunjukkan adanya masalah struktural dalam industri dan ketenagakerjaan, yang tidak cukup diatasi hanya dengan bansos dan stimulus musiman seperti yang direncanakan pemerintah.

"Meskipun target 5,2 persen pada 2025 menjadi langkah awal, pencapaian pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan membutuhkan reformasi mendalam di sektor investasi, industri, dan produktivitas tenaga kerja, bukan sekadar dorongan konsumsi jangka pendek," kata Rendi

Secara terpisah, peneliti ekonomi Celios, Nailul Huda mengaku masih menyakini bahwa pertumbuhan ekonomi 8 persen masih sulit dicapai. Untuk mencapai 5,2 persen tahun ini pun, perlu effort lebih dari Pemerintah mengingat kondisi perekonomian domestik maupun global masih cukup rentan.

"Konsumsi rumah tangga, yang jadi andalan, akan cukup tertekan akibat adanya kasus PHK akhir-akhir ini Dampaknya bisa di semester kedua tahun ini," kata Huda.

Faktor eksternal, sangat terdampak kebijakan Presiden AS, Donald Trump yang akan menurunkan permintaan produk global termasuk dari Indonesia.

Untuk mendorong pertumbuhan hingga di atas 6 persen, Huda menyarankan agar pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan yang bersifat fiskal ekspansif.

  • Tag:
  • Pertumbuhan Ekonomi
  • Kebijakan Pemerintah

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today