Hati-Hati! Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Merupakan Peringatan Dini
JAKARTA - Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat signifikan karena daya beli masih lemah. Indeks keyakinan konsumen melemah dari bulan Januari hingga Maret 2025.
"Perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dari 4,91 persen (Q1 2024) menjadi 4,89 persen (Q1 2025) merupakan sebuah peringatan dini. Padahal di Q1 2025 ada Ramadhan dan Idul Fitri," urainya, Selasa (6/5), menanggapi terjadinya pelemahan pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menunjuk momentum Ramadhan-Lebaran tahun ini juga ternyata tidak mampu mendongkrak perekonomian. "Sebagai perbandingan, pada tahun 2023 pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 5,22 persen bertepatan dengan Mudik Lebaran. Sebelumnya Celios menghitung bahwa perputaran uang di Hari Raya Idul Fitri tahun 2025 juga menurun signifikan" tambah Huda.
Karena itu, katanya, pemerintah wajib meningkatkan daya beli masyarakat melalui program-program yang sifatnya fiskal ekspansif seperti pembagian bantuan sosial terutama bagi kelompok menengah dan rentan.
Sementara Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman mengatakan pelemahan secara bersamaan mesin utama pertumbuhan seperti seperti konsumsi, ekspor dan investasi menggambarkan adanya masalah serius dalam perekonomian nasional.
"Kontraksi kuartal ke kuartal (q- to- q) dan tren penurunan secara tahunan atau year on year (yoy) menunjukan bahwa Indonesia tengah menghadapi gejala stagnasi terstruktur," katanya.
Nyaris Stagnan
Menurut dia, struktur pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I 2025 memperlihatkan kerentanan serius yang mana konsumsi rumah tangga melemah, investasi nyaris stagnan dan ekspor tergantung pada komoditas. Di sisi lain pemerintah mengerem belanja.
"Sebagai pilar ekonomi, konsumsi rumah tangga melambat, meskipun tetap sebagai penyanggah terbesar PDB, namun hanya tumbuh 4,89 persen, terendah dalam lima kuartal terakhir, indikasi pelemahan daya beli,"tegas Rizal dalam diskusi bertajuk
"Ekonomi Melambat, Pertanda Gawat? yang berlangsung secara daring di Jakarta Selasa (6/5).
Dari sisi investasi papar Rizal, PMTB lesu menggambarkan kekhwatiran dunia usaha. Dengan hanya tumbuh 2,12 persen dinilai jauh di bawah harapan dalam konteks pemulihan dan agenda hilirisasi. Pertumbuhan investasi itu menggambarkan keengganan dunia usaha atau investor untuk ekspansi akibat tekanan eksternal (perang dagang dan suku bunga global yang tinggi) serta ketidakpastian dalam negeri.
Lalu dari sisi ekspor, meskipun tumbuh 6,78 persen, namun bergantung pada komoditas volatile. Angka itu terkesan menggembirakan tetapi faktanya didominasi barang primer dan jasa pariwisata, dua sektor yang sangat rentan terhadap fluktuasi global.
"Artinya, ekspor Indonesia belum mengalami diversifikasi struktural, masih bergantung pada volume dan harga komoditas mentah,"tandas Rizal.
Tekanan semakin meningkat seiring dengan efisiensi belanja fiskal yang memperlemah daya beli. Ini anomali besar di tengah ancaman perlambatan ekonomi. Realisasi anggaran di awal tahun melemah. Artinya, antisipasi belanja fiskal sebagai penyanggah pertumbuhan gagal dijalankan
Faktor Musiman
Pada kesempatan berbeda, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mewanti-wanti besarnya tekanan ekonomi Indonesia ke depan, setelah BPS mengumumkan perekonomian triwulan I-2025 hanya tumbuh 4,87 persen. Pencapaian itu merosot jika dibandingkan dengan realisasi triwulan IV-2024 yang sebesar 5,02 persen dan anjlok lebih dalam dibanding pertumbuhan triwulan I-2024 sebesar 5,11 persen. "Jadi kelihatannya ke depan masih agak lebih mengkhawatirkan lagi," kata Yose.
Ia menegaskan, ekonomi pada triwulan I-2025 sebetulnya telah ditopang faktor musiman yang bisa mendorong salah satu komponen terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni konsumsi rumah tangga. Namun, pertumbuhannya malah tak mampu naik ke level 5 persen seperti biasanya.
Sebagaimana diketahui, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 54,53 persen terhadap ekonomi atau PDB Indonesia pada triwulan I-2025 hanya mampu tumbuh 4,89 persen yoy, lebih rendah dari kondisi empat triwulan tahun lalu yang memang sudah di bawah 5 persen yakni 4,9 persen.
"Jadi itu juga sudah ditopang juga dengan Ramadhan serta Lebaran. Tapi ternyata memang ada pelemahan seperti itu," tegasnya.
Yose pun meproyeksikan aktivitas ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 akan semakin berat karena imbas dari perang dagang di kancah global. Dengan pengenaan tarif biaya masuk barang Indonesia ke AS sebesar 32 persen jika tidak bisa dinegosiasikan untuk turun, maka ekspor berpotensi tertekan, padahal kontribusinya terhadap PDB mencapai
22,3 persen.
"Jadi memang perlu pegangan lebih erat lagi, lebih keras lagi. Permasalahannya di dalam ekonomi kita internal sendiri itu tidak terlalu kelihatan menjanjikan," kata Yose.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!