Lewat Tarif, Trump Picu Ketidakpastian Baru saat Situasi Relatif Tenang
WASHINGTON- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini menerapkan serangkaian kebijakan tarif yang bertujuan memperkuat manufaktur Amerika, mengumumkan pada hari Kamis tarif impor baru yang luas, termasuk bea masuk 100 persen pada obat-obata bermerek dan pungutan 25 persen pada truk bermuatan berat. Ini memicu ketidakpastian perdagangan baru setelah periode yang relatif tenang.
Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan pengenaan tarif pada produk elektronik asing berdasarkan jumlah chip yang terpasang di masing-masing perangkat. Hal itu sebagai upaya mendorong perusahaan untuk mengalihkan manufaktur mereka ke AS.
Tiga orang yang mengetahui masalah tersebut menyatakan Departemen Perdagangan AS akan mengenakan tarif yang setara dengan persentase tertentu dari perkiraan nilai isi chip produk, namun rencana itu masih bisa berubah.
"Amerika tidak dapat bergantung pada impor asing untuk produk semikonduktor yang penting bagi keamanan nasional dan ekonomi kita," kata juru bicara Gedung Putih Kush Desai.
"Pemerintahan Trump menerapkan pendekatan yang bernuansa dan multifaset untuk memindahkan kembali manufaktur penting ke AS melalui tarif, pemotongan pajak, deregulasi, dan kelimpahan energi," tambahnya.
Jika dilaksanakan, rencana tersebut bahwa pemerintahan Trump berupaya menyerang berbagai produk konsumen, mulai dari sikat gigi hingga laptop, yang berpotensi meningkatkan inflasi karena berupaya meningkatkan manufaktur AS.
"Rencana tersebut dapat mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi di saat AS menghadapi masalah inflasi yang ada di atas target The Fed dan terus meningkat," kata Ekonom di American Enterprise Institute, Michael Strain yang berhaluan konservatif. Adapun, target inflasi Federal Reserve adalah 2 persen.
Strain menambahkan, barang-barang yang diproduksi di dalam negeri kemungkinan akan menjadi lebih mahal, akibat tarif baru pada bahan baku utama yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang tersebut.
Ancaman Keamanan Nasional
Pada April lalu, pemerintahan Trump mengumumkan penyelidikan terhadap impor produk farmasi dan semikonduktor sebagai bagian dari upaya untuk mengenakan tarif pada produk tersebut, dengan alasan bahwa kebergantungan yang besar pada produksi asing menimbulkan ancaman keamanan nasional.
Namun, muncul pertanyaan tentang produk-produk yang mengandung chip yang akan terkena tarif, besaran tarif, dan apakah ada negara, produk, atau perusahaan yang akan dikecualikan.
Trump pada Agustus mengatakan, AS akan mengenakan tarif sekitar 100 persen pada impor semikonduktor tetapi mengecualikan perusahaan yang memproduksi di AS atau telah berkomitmen untuk melakukannya.
Pembuat chip terbesar di luar AS termasuk Taiwan Semiconductor Manufacturing Co dan Samsung Electronics Korea Selatan.
Salah satu sumber yang dikonfirmasi kantor berita Reuters mengatakan Departemen Perdagangan pada tahap awal sedang mempertimbangkan tarif sebesar 25 persen untuk konten terkait chip pada perangkat impor, dengan tarif sebesar 15 persen untuk barang elektronik dari Jepang dan Uni Eropa.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!