AS dan China Sepakat Perpanjang Gencatan Tarif, Tapi Keputusan Final Ada di Tangan Trump

AS dan China Sepakat Perpanjang Gencatan Tarif, Tapi Keputusan Final Ada di Tangan Trump
- (Dok. ABC News).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Amerika Serikat dan China belum mencapai kesepakatan konkret dalam perundingan dagang terbaru di Stockholm, namun kedua pihak sepakat secara prinsip untuk memperpanjang gencatan tarif yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 12 Agustus. Meski demikian, perpanjangan itu masih memerlukan persetujuan langsung dari Presiden AS Donald Trump.

Negosiasi dua hari yang berlangsung di ibu kota Swedia itu melibatkan pejabat tinggi dari kedua negara. China diwakili oleh kepala negosiator Li Chenggang, sementara AS mengirim perwakilan perdagangan Jamieson Greer dan Menteri Keuangan Scott Bessent. Meski pertemuan tak menghasilkan terobosan berarti, Li menyebut kesepakatan memperpanjang masa tenang tarif ini akan memberi ruang untuk dialog lanjutan, meski belum ada kepastian soal durasi perpanjangan.

Jamieson Greer menegaskan bahwa segala keputusan terkait kebijakan tarif tetap berada di tangan Trump. Sementara itu, Scott Bessent memperingatkan China tentang risiko terkena tarif tinggi jika terus membeli minyak dari Rusia, mengingat sanksi sekunder yang diberlakukan AS terhadap perdagangan minyak dari Moskow.

Ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia ini semakin meruncing sejak AS memberlakukan ancaman tarif tambahan terhadap negara-negara mitra. China merespons keras dengan mengenakan tarif balasan dan membatasi ekspor logam tanah jarang serta komponen penting untuk industri pertahanan dan teknologi AS.

Selain China, negara-negara seperti Meksiko, Kanada, Vietnam, dan Kamboja juga tengah berupaya keras agar tidak terkena lonjakan tarif baru dari Washington. Trump dijadwalkan menerapkan tarif tambahan terhadap Meksiko dan Kanada mulai Jumat mendatang jika tidak tercapai kesepakatan menit akhir.

Di Eropa, Komisioner Perdagangan Uni Eropa Maroš Šef?ovi? harus menghabiskan lebih dari 100 jam dalam negosiasi sebelum AS setuju mengurangi tarif ekspor UE dari rencana awal 30% menjadi 15%. Namun kesepakatan tersebut dinilai masih belum final dan membutuhkan pembahasan lanjutan.

Mantan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Pascal Lamy, menilai banyak perjanjian dagang yang diumumkan pemerintahan Trump masih minim detail dan cenderung menimbulkan ketidakpastian baru. Ia menyebut kesepakatan dengan UE sebagai "belum matang sepenuhnya, mungkin baru dua pertiga selesai."

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) baru saja menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3% dari sebelumnya 2,8%. Namun IMF juga memperingatkan bahwa ketidakpastian tarif tetap menjadi risiko besar yang dapat menghambat pemulihan ekonomi global.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE