Perdagangan Global Lagi Panas, Posisi Rupiah Makin Anjlok

R
Rivaldi Dani Rahmadi
Penulis
News
Perdagangan Global Lagi Panas, Posisi Rupiah Makin Anjlok
- (Dok. Pixabay/EmAji).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Perang dagang yang makin memanas antara Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara kayak Tiongkok, Kanada, dan Meksiko bikin mata uang dunia jadi ketar-ketir. Rupiah pun nggak luput dari dampaknya, makin melemah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pakar keuangan, Ibrahim Assuabi bilang kalau pelemahan rupiah ini disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran soal konflik ekonomi global yang makin pelik.

"Presiden AS, Donald Trump mengumumkan tarif baru sebesar 25 persen untuk semua impor baja dan aluminium. Langkah ini telah meningkatkan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan perdagangan dan dampak potensialnya terhadap ekonomi global," ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (10/2).

Nggak cuma AS yang bikin gerakan, Tiongkok juga nggak mau kalah. Mereka langsung pasang tarif tambahan 15 persen buat impor batu bara dan gas alam cair (LNG) dari AS sebagai balasan atas tarif impor 10 persen yang sebelumnya diterapin AS ke barang-barang mereka. Jadi makin panas, deh!

iklan gulaku

Di sisi lain, pengamat pasar uang Ariston Tjendra bilang kalau ekonomi AS masih on fire banget. Data terbaru menunjukkan angka pengangguran AS turun jadi 4 persen di Januari 2025 dari 4,1 persen sebelumnya. Upah juga naik 0,5 persen, ekspektasi inflasi meningkat jadi 4,3 persen dari 3,3 persen.

"Data ini tentu saja mendukung penguatan dollar AS terhadap nilai tukar lainnya," kata Ariston.

Buktinya, pas perdagangan Senin di Jakarta, nilai tukar rupiah melemah 75 poin atau 0,46 persen ke level 16.358 per dolar AS, turun dari sebelumnya 16.283 per dolar AS.

Sementara, pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi ngingetin kalau ketegangan antara AS dan Tiongkok ini bisa bikin ekonomi dunia makin goyang. Negara berkembang kayak Indonesia juga kena getahnya, rupiah bisa makin jatuh kalau nggak ada langkah konkret.

"Situasi ini tentu akan berbahaya jika pemerintah dan Bank Indonesia tidak segera melakukan mitigasi atau penyesuaian kebijakan untuk menguatkan kembali rupiah. Meskipun kita juga tahu, kondisi global bukan satu satu faktor penentu pelemahan rupiah," jelas Badiul.

Salah satu masalah utama yang bikin rupiah lemah adalah defisit transaksi berjalan yang masih tinggi. Indonesia masih terlalu bergantung sama impor dan modal asing.

Makanya, menurut Badiul, BI harus kasih kebijakan yang pro pasar supaya suku bunga acuan lebih menarik buat investor. Selain itu, pemerintah juga harus push ekspor lebih kencang biar neraca perdagangan bisa surplus. Kalau nggak, rupiah bisa makin tertekan.

  • Tag:
  • Balapan F1
  • Rupiah
  • Perdagangan Global

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today
Contraflow Tol Japek Arah Jakarta Dihentikan Gegara Hal Ini
Rivaldi Dani Rahmadi