Kek Lapis, Kue Paling Terindah untuk Menghiasi Ramadhan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Di tengah semarak persiapan Hari Raya, aroma khas kek lapis menyebar dari berbagai dapur di Malaysia, termasuk dari studio rumahan Sharifah Zainon atau yang akrab disapa Seri.
Dilansir dari BBC International, kue berlapis dengan pola geometris rumit ini menjadi salah satu hidangan yang paling dinantikan saat perayaan. Namun, di balik keindahan dan kelezatannya, kek lapis menyimpan proses pembuatan yang penuh ketelitian dan membutuhkan kesabaran tinggi.
Seri bukan satu-satunya yang menggabungkan keahlian teknis dengan dunia baking. Karen Chai, seorang insinyur yang beralih profesi menjadi pembuat kek lapis, juga menerapkan pemahaman ilmiahnya dalam pembuatan kue ini. Berbekal pendidikan pastry di Le Cordon Bleu, Paris, ia memutuskan untuk mengembangkan kek lapis menggunakan resep keluarga.
"Ilmu sains dalam baking sangat membantu, terutama dalam menciptakan kek lapis yang membutuhkan perhitungan presisi," ungkapnya.
Kek lapis pertama kali diperkenalkan ke Malaysia melalui Sarawak pada tahun 1970-an, setelah sebelumnya berkembang di Indonesia dari pengaruh kolonial Belanda. Versi asli kue ini, lapis legit, dikenal dengan banyaknya lapisan tipis dan penggunaan rempah-rempah seperti kayu manis dan cengkeh.
Di Sarawak, kek lapis berkembang menjadi bentuk seni kuliner yang lebih kompleks. Setiap potongan kue menampilkan kombinasi warna dan pola unik, yang dibuat dengan cara memanggang setiap lapisan secara terpisah sebelum disusun ulang menggunakan selai atau susu kental sebagai perekat.
Proses pembuatannya menuntut ketelitian tinggi. Para pembuat kek lapis umumnya menggambar pola terlebih dahulu di atas kertas sebelum mulai menyusun lapisan demi lapisan. Kesalahan dalam perhitungan ukuran atau warna baru terlihat setelah proses perakitan selesai, yang sering kali berarti seluruh kue harus diulang dari awal.
Di Sarawak, kek lapis tidak hanya hadir saat Hari Raya, tetapi juga dalam berbagai perayaan seperti Tahun Baru Imlek, Natal, dan Gawai Dayak. Kek lapis telah menjadi simbol keanekaragaman budaya dan diterima di berbagai kalangan.
Pelanggan setia seperti Farazaila Wahet menganggap kue ini sebagai hidangan wajib saat Lebaran.
"Teksturnya lebih padat dan rasanya lebih kaya dibandingkan kue lainnya, sehingga memberikan kepuasan tersendiri," ujarnya.
Seiring waktu, para pembuat kek lapis terus berinovasi untuk menarik minat generasi muda. Seri, misalnya, mengembangkan kek lapis dengan motif batik berbasis cokelat, sementara Chai bereksperimen dengan bahan alternatif seperti tepung kelapa dan selai kacang.
Dengan harga yang bisa mencapai £50 per kilogram, kek lapis tetap menjadi primadona baik untuk konsumsi pribadi maupun sebagai hadiah eksklusif. Meskipun proses pembuatannya rumit dan memakan waktu, para pembuatnya tetap berkomitmen untuk mempertahankan tradisi ini.
"Setiap kali saya membuat kek lapis, rasanya seperti membawa pulang sepotong kenangan," kata Seri.
Di balik kelezatannya, kek lapis tidak hanya sekadar kue, tetapi juga cerminan dari perpaduan seni, sejarah, dan inovasi yang terus berkembang.
0 Comments





- Mikey Madison Raih Penghargaan Bergengsi di Independent Spirit Awards 2024 untuk 'Anora'
- Orang-orang Beralih ke Cara Lama Dalam Mencari Pasangan, Benarkah Kejayaan Aplikasi Kencan Online Mulai Pudar?
- Philophobia: Ketakutan Akan Cinta yang Bisa Mengganggu Hidup
- Antisipasi Lonjakan Pengunjung, Monas Tambah Loket Tiket dan Hadirkan Atraksi Spesial di Libur Lebaran
- Brad Pitt Kembali Beraksi, Siap Pacu Adrenalin dalam Film Terbaru F1
- Rekayasa Lalu Lintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampek Dihentikan, Arus Kembali Normal
- Remaja di Australia Barat Didakwa atas Ancaman ‘Christchurch 2.0’ terhadap Masjid di Sydney
- Donald Trump Usir Anggota Demokrat saat Acara Kongres Berlangsung
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!