Waspadalah, Situasi Pasar Modal Indonesia Sudah Lampu Kuning
JAKARTA- Pemerintah harus segera mengambil langkah konkret guna merespon penurunan indikator perekonomian demi memulihkan kembali kepercayaan investor. "Pemerintah harus segera mengambil kebijakan dengan meminimalisir segala ketidakpastian (uncertainty) kebijakan di dalam negeri tak kecuali kepastian hukum," kata Teuku Riefky.
Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) tersebut diminta menanggapi penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (18/3) yang sempat anjlok 6,02 persen ke level 6.058, sehingga memaksa otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikn sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 11:19 WIB.
Menurut Riefky, trading halt didorong oleh faktor ketidakpercayaan investor terhadap kondisi Indonesia, seperti kondisi fiskal dan ketidakpastian kebijakan lainnya yang ikut memicu penurunan kepercayaan masyarakat.
Kondisi ini, katanya, diperparah faktor global yang masih berlangsung dan turut mendorong penurunan IHSG, termasuk faktor menjelang pengumuman hasil rapat gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed??????.
"Hal-hal seperti ini yang kemudian membuat banyak terjadinya capital outflow dari Indonesia," kata Riefky.
Sebelumnya, Direktur BEI Iman Rachman menyebut faktor global lebih banyak memengaruhi volatilitas IHSG., sebagaimana kebijakan tarif AS terhadap negara mitra dagangnya telah menyebabkan dampak negatif ke berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. "Volatilitas IHSG lebih disebabkan berbagai akumulasi sentimen, tidak hanya berasal dari tingkat domestik."
Lampu Kuning
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira yang diminta pendapatnya mengatakan, situasi pasar modal Indonesia sudah masuk lampu kuning. IHSG terlemah di Asia dan kondisi tersebut anomali di saat sebagian besar indeks saham Asia hijau.
Koreksi pasar saham yang tajam tidak terlepas dari sentimen investor terhadap kombinasi faktor kinerja fiskal yang memburuk, RUU TNI, skeptisme terhadap tata kelola Danantara, daya beli masyarakat turun terkonfirmasi oleh impor barang konsumsi jelang Ramadhan terkoreksi 21,05 persen.
Untuk sentimen hari ini tidak terlepas dari polemik revisi UU TNI berakibat sentimen negatif juga di market. "Ada risiko TNI masuk jabatan sipil menurunkan daya saing ekonomi Indonesia, memperbesar konflik kepentingan dan celah korupsi,"ungkap Bhima.
Memang ada faktor kebijakan proteksionisme Trump yang mengacaukan pasar saham di negara berkembang, tetapi faktor domestik Indonesia punya andil lebih besar. Kalau sampai trading halt berarti investor asing akan terus lakukan sell off. Pasar modal paska libur lebaran masih belum bisa dipastikan apakah akan ada rebound.
Oleh sebab itu, dia mengusulkan agar Pemerintah membatalkan revisi UU TNI guna meredakan fluktuasi di pasar keuangan untuk sementara.
"Kalau dibiarkan, capital outflow terus berlanjut bisa menjadi indikasi menuju pada resesi ekonomi, ada kekhawatiran akumulasi faktor yang menurunkan performa ekonomi Indonesia mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Kalau resesi terjadi, pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, konflik sosial bisa terjadi di berbagai daerah,"ungkap Bhima.
Sementara itu, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan volatilitas IHSG disebabkan oleh kombinasi dari faktor eksternal dan dari internal. Sentimen dari global seperti perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan negara mitra dagangnya, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, dari dalam negeri, defisit APBN periode Februari 2025 telah memberikan sentimen negatif bagi pelaku pasar.
Sentimen itu menyebabkan investor asing menarik dananya dari pasar saham domestik (foreign outflow) dalam beberapa waktu terakhir.
"Investor kembali menarik dananya dari pasar modal Indonesia, bisa saja mereka ada ketakutan tentang stabilitas ekonomi dan global, terutama adalah resesi. Mereka bersiap-siap untuk menarik dananya memindahkan investasinya ke negara-negara yang lebih aman," kata Ibrahim.
0 Comments





- Efisiensi Harus Dilakukan pada Pos-pos Pemborosan dan Tak Rasional
- Butuh Terobosan khusus Guna Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
- Target Pertumbuhan Ekonomi 8% Terlalu Ambisius
- Potret Kelemahan Sistemik Indonesia: Dari Dwifungsi TNI hingga Kekalahan Timnas
- IESR Dorong Pemerintah Mengakomodir Alokasi Penggunaan Lahan untuk Energi Terbarukan
- Ulah Trump Mengenakan Tarif Baja dan Aluminium Memicu kekhawatiran Warga AS
- Gak Usah Lagi Impor Beras Jika Bulog Mampu Serap 2 Juta Ton Beras Petani
- Ajib! Investasi Proyek Hilirisasi Berpotensi Buka 8 Juta Lapangan Kerja
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!