Biaya Hidup Tinggi & Trauma Masa Kecil, Pemicu Masalah Mental di Jakarta!
JAKARTA GENVOICE.ID-Jakarta dikenal sebagai kota yang dinamis, tetapi di balik gemerlapnya, banyak warganya yang mengalami gangguan kesehatan mental. Menurut psikolog dan pengurus pusat Himpunan Psikologi Indonesia (PP HIMPSI), Samanta Elsener, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya angka gangguan mental di ibu kota.
Salah satu penyebab utama adalah tingginya biaya hidup yang membebani banyak orang. Selain itu, trauma dari pola asuh di masa kecil, pengalaman pelecehan, serta tekanan sosial juga memperparah kondisi kesehatan mental masyarakat Jakarta.
"Selain itu, trauma akibat pengasuhan atau pelecehan, bullying, biaya hidup tinggi, menjadi 'sandwich generation', hutang, beban sosial juga bisa jadi penyebab," ujar Samanta, dilansir dari ANTARA.
Jarak rumah dan kantor yang jauh pun berkontribusi pada masalah kesehatan, baik fisik maupun mental. Kemacetan yang tak ada habisnya menyebabkan stres, burnout, kecemasan, hingga menurunnya produktivitas kerja.
Samanta menegaskan bahwa sekadar bercerita atau melakukan talk therapy saja tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan ini. Diperlukan kebijakan yang lebih komprehensif dari pemimpin Jakarta ke depan, terutama dalam menangani kemacetan dan memperbaiki kualitas udara.
"Solusi yang dibutuhkan warga Jakarta adalah bagaimana macet bisa terurai dan kualitas udara Jakarta bisa lebih baik," tegasnya.
Jika masalah ini bisa diatasi, maka indeks kebahagiaan dan kualitas hidup masyarakat Jakarta akan meningkat secara signifikan.
Psikolog Klinis Kasandra Putranto juga menambahkan bahwa depresi dan kecemasan masih menjadi masalah utama kesehatan mental di Jakarta. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sekitar 1 dari 10 orang di Indonesia mengalami gangguan mental.
Lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, sementara lebih dari 12 juta lainnya menderita depresi. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari faktor genetik, pola asuh, tekanan hidup, hingga lingkungan sekitar.
"Yang jelas, salah satunya Jakarta adalah penyumbang angka kekerasan seksual dan adiksi narkoba," kata Kasandra.
Melihat tingginya angka gangguan kesehatan mental, para ahli berharap pemimpin Jakarta berikutnya bisa lebih fokus pada kebijakan yang mendukung kesehatan mental warganya. Mulai dari mengatasi kemacetan, meningkatkan kualitas udara, hingga menyediakan layanan kesehatan mental yang lebih mudah diakses masyarakat.
Dengan langkah yang tepat, diharapkan Jakarta bisa menjadi kota yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga memiliki masyarakat yang lebih sehat secara mental dan emosional.
0 Comments





- Salah Injak Pedal, Ford Ecosport Tabrak Dispenser SPBU di Lenteng Agung!
- Tragis! Juru Parkir di Bandung Tewas Dikeroyok, Diduga Ulah Geng Motor!
- Hati-hati! Begini Cara Aman Menepi di Bahu Jalan Biar Gak Celaka
- Rekomendasi Beasiswa Australia untuk Pelajar Indonesia
- Jay Idzes Dilirik Inter Milan? Ini Jawaban Santainya!
- Valentine Tanpa Pasangan? Ini Cara Seru Merayakannya!
- Born Again - Lisa Blackpink Feat. Doja Cat, Lirik dan Terjemahan
- Heboh Protes di Kemendiktisaintek, Karangan Bunga dan Spanduk Berisi Kritik Pedas ke Menteri
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!