Mengapa Mantan Pasangan Memicu Kecemburuan Retroaktif dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

I
Ihsan
Penulis
Lifestyle
Mengapa Mantan Pasangan Memicu Kecemburuan Retroaktif dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
- (Dok. Mihajlovna/Getty Images).

Tampaknya, kecenderungan untuk secara impulsif memusuhi mantan pasangan kita sudah mulai memudar. Namun, untuk mereka yang sangat percaya diri tidak kebal terhadap perasaan yang disebut para ahli sebagai kecemburuan retroaktif ini.

Dilansir dari The Guardian, dalam budaya populer, tema ini tetap sering muncul, Olivia Rodrigo, misalnya, menyiratkan obsesi dengan mantan pacar kekasihnya di lagu Obsessed. Lagu-lagu seperti Secret of Us dari Gracie Abrams, Taste dari Sabrina Carpenter, hingga I Hate Your Ex-Girlfriend dari Banks & Doechii juga mencerminkan pikiran obsesif serupa terhadap mantan kekasih pasangan.

Meskipun perasaan ini sangat umum, memikirkan mantan kekasih pasangan tetap dianggap tabu karena berbagai alasan, salah satunya adalah anggapan sosial bahwa orang sehat seharusnya "lebih dewasa" daripada itu.

Sebagian besar dari kita merasa penasaran dengan sejarah percintaan pasangan kita. Namun, jika pencarian media sosial Anda mulai menyerupai investigasi kriminal, hal ini bisa merusak hubungan saat ini dan bahkan mengganggu keseimbangan hidup Anda sendiri. Mengapa mantan pasangan bisa begitu memicu kecemasan? Dan mengapa topik ini tetap sulit dibicarakan, meskipun begitu banyak orang mengalaminya?

iklan gulaku

Suzanna, 34, dari Halifax, menyebut dirinya sangat bergantung pada struktur. Sebaliknya, suaminya pernah tinggal di luar negeri selama setahun bersama mantan kekasihnya.

"Kadang-kadang saya bertanya-tanya apakah suami saya berharap saya bisa lebih spontan dan bebas, seperti mantannya," ujar Suzanna.

Meski menyadari bahwa perasaannya tidak logis, Suzanna berbicara dengan suaminya tentang bagaimana hal itu mengganggunya, dan ia memahami perasaan Suzanna.

"Sifat petualangnya membuat saya merasa kurang menarik. Bahkan Australia sempat masuk dalam daftar hitam saya!"

Menurut Lucas Saiter, seorang terapis sekaligus direktur di Manhattan Therapy NYC Practice, mantan pasangan sering kali memicu rasa tidak aman yang lebih dalam.

"Bagi seseorang yang merasa tidak yakin dengan nilai dirinya atau perasaan pasangannya, mantan pasangan bisa melambangkan kualitas yang mereka pikir tidak dimiliki, atau bahkan menjadi simbol persaingan."

Sejarah hubungan pasangan yang penuh dengan orang-orang menarik pada awalnya mungkin membuat mereka terlihat lebih menawan, tetapi kemudian justru menjadi sumber stres. Emily, seorang arsitek dari Paris, mengingat bagaimana mantan pacarnya sering berbicara dengan mantan kekasihnya, yang juga adalah seorang astrofisikawan.

"Saya tidak bisa berkontribusi dalam percakapan mereka tentang cuaca luar angkasa. Saat itu saya merasa kehilangan arah dalam karier, sedangkan dia sedang mengejar mimpinya menjadi astronot. Saya tidak bisa memahami apa yang menarik dari saya dibandingkan dia."

Di era digital, media sosial membuat segalanya lebih rumit. Kemudahan mengakses informasi tentang mantan pasangan pasangan kita bisa terasa "tidak berbahaya," tetapi sering kali justru meninggalkan perasaan bersalah atau melanggar batasan pribadi.

Saiter menjelaskan, "Media sosial membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit karena semuanya ada di depan mata. Setelahnya, banyak orang merasa tidak nyaman karena melanggar nilai-nilai mereka sendiri."

Rachel, 30, dari Pittsburgh, mengaku terobsesi membandingkan dirinya dengan mantan kekasih pacarnya.

"Mantan pacar serius pertama saya pernah menulis buku, dan saya membaca seluruh buku itu hanya untuk memastikan isinya tidak terlalu bagus," ucapnya.

Sementara itu, Annie, 29, dari Washington DC, mengaku sulit melepaskan pikirannya dari mantan istri tunangannya, meskipun pasangannya sudah memutus kontak.

"Saya tidak bisa berhenti memikirkan betapa cantiknya dia, dan saya yakin pasangan saya pasti tidak puas dengan saya jika dibandingkan dengannya."

Jika Anda terjebak dalam pola pikir ini, Saiter merekomendasikan untuk mengambil jeda dari media sosial.

Anggap saja seperti menekan tombol reset. Mindfulness juga dapat membantu menghentikan pikiran-pikiran obsesif, dan terapi adalah tempat yang baik untuk mengeksplorasi penyebab kebiasaan ini."

Olivia Gatwood, seorang novelis yang pernah menjalani terapi untuk mengatasi kecemasan serupa, mengingatkan bahwa berbicara dengan orang lain dapat membantu. "Hal ini terasa kekanak-kanakan dan memalukan, tetapi saya merasa lega setelah tahu bahwa saya tidak sendirian."

Pada akhirnya, penting untuk diingat bahwa perasaan ini wajar. Dengan berbicara terbuka, mengidentifikasi sumber ketidakamanan, dan memberikan diri sendiri waktu untuk sembuh, Anda dapat mengurangi kecemasan ini dan menikmati hubungan yang lebih sehat.

  • Tag:
  • entrepreneur
  • startup

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today