Para Pemimpin Eropa Akan Berkumpul di Kyiv: Tunjukkan Dukungan ke Ukraina Setelah Parade Putin
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sehari setelah Vladimir Putin memamerkan kekuatan militer Rusia di Lapangan Merah, empat tokoh besar Eropa dijadwalkan berkumpul di Kyiv pada Sabtu pagi. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Ketua CDU Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk akan hadir dalam kunjungan simbolis yang menegaskan dukungan mereka terhadap Ukraina.
Kunjungan ini bukan sekadar diplomasi. Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan serangan udara besar ke Ukraina, peringatan yang datang langsung dari intelijen Amerika, kehadiran mereka dimaksudkan untuk memberi pesan tegas ke Moskow: Ukraina tidak sendiri.
Downing Street menyebutkan bahwa keempat pemimpin akan bertemu langsung dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy dan menyerukan gencatan senjata selama 30 hari tanpa syarat. Usulan ini sebelumnya juga sempat mendapat angin dari Donald Trump dan pejabat AS sebagai langkah awal menuju perdamaian jangka panjang. Meski Ukraina menyambut baik, Rusia masih menolak.
Sebaliknya, Moskow justru mengumumkan gencatan sepihak selama tiga hari yang dimulai 8 Mei, tepat menjelang peringatan 80 tahun kemenangan Soviet di Perang Dunia II. Namun menurut laporan dari kedua belah pihak, pertempuran tetap berlanjut, meskipun Rusia cenderung mengurangi serangan drone dan misil.
Sabtu pagi, para pemimpin dijadwalkan mengunjungi Maidan, pusat perlawanan rakyat Ukraina, di mana ribuan bendera dipasang untuk mengenang korban perang. Setelah itu, mereka akan bergabung dalam pertemuan virtual untuk membahas rencana pembentukan kekuatan multinasional yang mencakup udara, darat, laut, dan pemulihan pascakonflik.
Dalam pernyataan bersama, keempat pemimpin menegaskan bahwa mereka siap mendorong dimulainya negosiasi damai, membahas teknis gencatan senjata, dan menyusun dasar kesepakatan perdamaian penuh.
Mereka juga menegaskan bahwa dukungan terhadap Ukraina akan terus ditingkatkan, selama Rusia belum menunjukkan itikad untuk menghentikan agresi.
Sementara itu, parade militer besar-besaran di Moskow tetap menarik perhatian dunia. Selain Xi Jinping dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, parade ini juga dihadiri oleh Robert Fico dari Slovakia dan Aleksandar Vu?i? dari Serbia, dua pemimpin yang kehadirannya memicu reaksi tajam dari sesama pemimpin Eropa.
"Kalau benar-benar ingin perdamaian, tempatmu besok adalah di Kyiv, bukan di Moskow," sindir kepala diplomasi Uni Eropa.
Kunjungan ke Kyiv kali ini juga dinilai sebagai langkah strategis untuk membentuk kesepakatan bersama yang bisa dibawa ke Donald Trump. Meski selama ini Trump lebih terlihat skeptis terhadap Ukraina, ada sinyal kecil perubahan sikap setelah pertemuan positif dengan Zelenskyy di Vatikan, di sela acara pemakaman Paus.
Bahkan JD Vance, Wakil Presiden AS yang dikenal paling ragu terhadap dukungan ke Ukraina, mulai menunjukkan nada berbeda. "Tuntutan Rusia terlalu besar kalau benar ingin damai," ujarnya baru-baru ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!