“Great European Charm Offensive": Eropa Kompak Dukung Ukraina di Tengah Manuver Trump dan Putin
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pertemuan antara Volodymyr Zelenskyy dan Donald Trump di Washington awal pekan ini berubah menjadi salah satu momen diplomasi paling tidak biasa dalam sejarah modern. Bukan hanya karena pertemuan itu datang setelah Trump bertemu Vladimir Putin di Alaska, tetapi juga karena Zelenskyy tidak hadir sendirian.
Tujuh pemimpin Eropa - mulai dari Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Finlandia, hingga pejabat tinggi Uni Eropa dan NATO - berbondong-bondong ikut ke Washington. Langkah ini dijuluki sebagai "Great European Charm Offensive", sebuah unjuk kekuatan diplomasi yang jarang terjadi.
Tujuannya jelas: mencegah pengulangan insiden Februari lalu ketika Trump secara mengejutkan "menyergap" Zelenskyy di Gedung Putih. Kali ini, para pemimpin Eropa ingin memastikan Ukraina tidak ditinggalkan sendirian menghadapi sikap Trump yang belakangan condong ke posisi pro-Rusia.
Trump, yang semula menjanjikan gencatan senjata cepat, justru keluar dari pertemuannya dengan Putin sambil menekan agar Zelenskyy "menyelesaikan sendiri" urusan perang. Langkah itu membuat Moskow bersorak gembira.
Dalam pertemuan di Washington, para pemimpin Eropa memainkan strategi berbeda: pujian, basa-basi, dan diplomasi halus. Zelenskyy sendiri menampilkan gaya yang disebut diplomat Eropa sebagai "combat formal" - hampir seperti jas, tapi tetap mencerminkan situasi perang - dan mengucapkan delapan kali terima kasih, sebagian besar diarahkan langsung kepada Trump.
Namun, di balik suasana diplomatik yang penuh senyum, kegelisahan tetap terasa. Trump memang mengisyaratkan kesiapan memberikan jaminan keamanan bagi Kyiv jika tercapai kesepakatan damai, tetapi dengan cepat menutup opsi pengerahan pasukan Amerika di Ukraina. Sebagai gantinya, ia hanya menyebut kemungkinan dukungan udara.
Banyak pertanyaan tersisa: apa sebenarnya yang dibicarakan Trump dan Putin di Alaska? Apakah Putin benar-benar membuka ruang kompromi, atau sekadar menawarkan "perjanjian damai" yang mustahil diterima Ukraina?
Beberapa pengamat menilai, justru di situlah letak bahayanya. Putin bisa saja menawarkan syarat ekstrem - seperti Ukraina harus angkat kaki dari Donetsk dan Luhansk - dengan harapan Zelenskyy menolak. Jika itu terjadi, Trump bisa menyalahkan Kyiv dan menggunakan alasan itu untuk menghentikan dukungan AS.
Meski demikian, ada hal yang tak terbantahkan: Trump secara tak sengaja telah membuat Eropa semakin kompak. Fabrizio Tassinari, pakar kebijakan Eropa, bahkan menyebut Trump sebagai "penyatu terbesar Eropa sejak akhir perang dingin."
Namun, seperti yang diperingatkan Yuriy Boyechko dari organisasi Hope for Ukraine, hanya mengandalkan daya tarik diplomatik tidak cukup. Dengan bom Rusia yang masih jatuh di Ukraina, Eropa kini ditantang untuk membangun strategi nyata agar tidak sekadar bergantung pada perubahan sikap Trump di masa depan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!