Gol Dianulir hingga Polemik Visa, Deretan Kontroversi yang Membayangi Iran di Piala Dunia 2026

Gol Dianulir hingga Polemik Visa, Deretan Kontroversi yang Membayangi Iran di Piala Dunia 2026
- (Dok. Reuters).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Perjalanan Iran di Piala Dunia 2026 berakhir lebih cepat setelah gagal menembus babak 32 besar. Tim asuhan Amir Ghalenoei hanya mampu finis di posisi ketiga Grup G dan gagal lolos melalui jalur peringkat ketiga terbaik.

Namun, kegagalan tersebut bukan satu-satunya hal yang menjadi sorotan. Sepanjang turnamen, Iran terlibat dalam berbagai kontroversi yang memunculkan perdebatan, mulai dari masalah visa, pengaturan markas tim, hingga keputusan wasit pada laga terakhir fase grup.

Kontroversi yang terjadi bahkan sudah muncul sebelum turnamen dimulai dan terus membayangi langkah Team Melli hingga pertandingan terakhir.

Momen paling dramatis terjadi saat Iran menghadapi Mesir pada laga penentuan Grup G. Di masa injury time, Shoja Khalilzadeh sempat mencetak gol yang diyakini dapat mengantar Iran ke babak gugur.

Namun, setelah pemeriksaan VAR, wasit memutuskan untuk menganulir gol tersebut karena posisi offside. Tayangan ulang menunjukkan jarak yang sangat tipis sehingga keputusan itu langsung memicu perdebatan di kalangan suporter dan pengamat.

Gol yang dianulir tersebut membuat Iran gagal meraih kemenangan yang mereka butuhkan untuk lolos ke fase berikutnya. Kekecewaan pun semakin besar karena peluang lolos berada sangat dekat sebelum keputusan tersebut diumumkan.

Sebelum Piala Dunia dimulai, Iran juga menghadapi persoalan administrasi. Sejumlah anggota staf dan ofisial tim dilaporkan tidak memperoleh visa untuk masuk ke Amerika Serikat.

Beberapa staf administrasi, logistik, dan pejabat federasi dikabarkan mengalami kendala dalam proses keberangkatan. Situasi tersebut membuat persiapan tim terganggu dan memunculkan kritik terhadap penyelenggaraan turnamen.

Selain persoalan visa, Iran juga tidak menetapkan markas utama di Amerika Serikat meskipun seluruh pertandingan fase grup mereka dimainkan di negara tersebut. Tim akhirnya menggunakan Meksiko sebagai basis selama turnamen berlangsung.

Kondisi itu membuat para pemain dan staf harus bolak-balik antara Meksiko dan Amerika Serikat setiap kali menjalani pertandingan. Jadwal perjalanan yang padat dinilai memengaruhi kenyamanan dan persiapan tim.

Sejumlah pihak kemudian mempertanyakan peran FIFA dalam menjamin kondisi yang ideal bagi seluruh peserta Piala Dunia, termasuk Iran.

Kontroversi lain muncul ketika beberapa permintaan Iran kepada FIFA tidak dikabulkan. Federasi sepak bola Iran sempat meminta pembatasan atribut pelangi di stadion, tetapi permintaan tersebut ditolak.

Iran juga mengajukan izin untuk mengenakan pita hitam karena salah satu pertandingan berlangsung bertepatan dengan peringatan Asyura. Permohonan tersebut juga tidak mendapatkan persetujuan.

Situasi tersebut menambah rasa frustrasi di kubu Iran. Kapten tim, Mehdi Taremi, menjadi salah satu sosok yang paling vokal menyuarakan kekecewaan.

Penyerang berusia 33 tahun itu mengkritik penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dan menilai FIFA tidak memberikan dukungan yang cukup kepada timnya. Taremi bahkan menyebut pengalaman Iran selama turnamen sebagai situasi yang sangat mengecewakan.

Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino yang sebelumnya disebut telah memberikan jaminan kepada tim Iran setelah pertandingan melawan Selandia Baru.

Terlepas dari kontroversi yang terjadi, Iran tetap menunjukkan daya saing selama fase grup. Namun, kombinasi hasil pertandingan dan berbagai persoalan di luar lapangan membuat langkah mereka di Piala Dunia 2026 harus terhenti lebih cepat.

Piala Dunia kali ini pun meninggalkan banyak pertanyaan mengenai perlakuan terhadap Iran sepanjang turnamen dan menjadi salah satu kisah yang paling banyak diperbincangkan setelah berakhirnya fase grup.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE