Sinopsis ‘Pesta Babi’, Film Dokumenter yang Tuai Pro dan Kontra
Pemutaran film di sejumlah daerah jadi sorotan publik usai muncul perdebatan soal isu masyarakat adat, proyek nasional, hingga dugaan keterlibatan aparat.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Film dokumenter Pesta Babi tengah menjadi sorotan publik setelah sejumlah agenda pemutaran bersama atau nobar dilaporkan dihentikan di beberapa daerah. Peristiwa tersebut ramai dibicarakan usai pemutaran film di kawasan Universitas Mataram serta wilayah Ternate Tengah disebut mendapat penghentian dari aparat dan pihak kampus.
Kontroversi yang muncul membuat film ini semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak publik penasaran dengan isi dokumenter tersebut, termasuk tema yang diangkat dan alasan film ini menuai pro dan kontra.
Film dokumenter ini digarap oleh Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale. Nama Dandhy sendiri sebelumnya sudah dikenal lewat sejumlah karya dokumenter bertema sosial, lingkungan, dan politik. Ia juga sempat menjadi perhatian publik melalui film dokumenter Dirty Vote yang sempat viral beberapa tahun lalu.
Secara garis besar, Pesta Babi merupakan film investigatif yang menyoroti kondisi masyarakat adat di wilayah Papua Selatan. Dokumenter tersebut menggambarkan perubahan besar yang terjadi akibat pembukaan lahan untuk berbagai proyek strategis nasional, termasuk program pangan dan pengembangan bioenergi.
Melalui pendekatan jurnalistik investigatif, film ini memperlihatkan bagaimana perubahan kawasan hutan memengaruhi kehidupan masyarakat adat yang tinggal di wilayah tersebut. Tidak hanya soal lingkungan, dokumenter ini juga menyoroti dampak sosial dan budaya yang dirasakan masyarakat setempat.
Film tersebut menampilkan kehidupan sejumlah kelompok adat seperti suku Marind, Awyu, Yei, hingga Muyu yang disebut menghadapi tekanan akibat perluasan perkebunan dan program food estate. Dalam narasinya, pembukaan lahan untuk proyek tebu, kelapa sawit, hingga bioetanol digambarkan memengaruhi hubungan masyarakat dengan tanah adat yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
Salah satu simbol penolakan yang muncul dalam film adalah penggunaan "salib merah" sebagai bentuk protes terhadap aktivitas perusahaan dan penguasaan lahan di wilayah adat. Dokumenter berdurasi sekitar 95 menit itu juga menyinggung isu lain seperti dugaan meningkatnya pendekatan keamanan dalam pengamanan kawasan proyek.
Sejak dirilis, film ini langsung memunculkan perdebatan di ruang publik. Sebagian pihak menilai isi dokumenter terlalu tajam dalam mengkritik proyek strategis nasional di Papua Selatan, terutama terkait dampak pembangunan terhadap lingkungan dan masyarakat adat.
Selain itu, pembahasan mengenai kolonialisme modern dan eksploitasi sumber daya alam Papua juga dianggap sensitif oleh sebagian kalangan. Tema tersebut dinilai berkaitan erat dengan persoalan politik dan sejarah panjang di wilayah Papua.
Kontroversi lainnya muncul karena film tersebut turut menyinggung dugaan keterlibatan aparat keamanan dalam pengamanan proyek. Hal inilah yang membuat sebagian orang menilai dokumenter tersebut memiliki nuansa politis.
Meski begitu, tidak sedikit pula yang melihat Pesta Babi sebagai karya yang mengangkat isu hak asasi manusia dan suara masyarakat adat yang jarang mendapat perhatian luas. Perbedaan pandangan inilah yang kemudian membuat film dokumenter tersebut terus menjadi bahan perbincangan publik di media sosial hingga saat ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!