Bisakah Tubuh Lupa Cara Mencerna Daging? Ini Jawaban Ilmiahnya

M
M Ihsan
Penulis
Lifestyle
Bisakah Tubuh Lupa Cara Mencerna Daging? Ini Jawaban Ilmiahnya
- (Dok. BBC International).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Mengurangi konsumsi daging adalah salah satu langkah paling sederhana untuk menekan jejak karbon.

Dilansir dari BBC International, para peneliti memperkirakan bahwa jika semua orang di Inggris hanya mengonsumsi kurang dari 50 gram daging per hari, atau setara dengan satu sosis Cumberland, maka dampak yang akan terjadi terhadap pengurangan emisi karbon akan setara dengan menghentikan delapan juta mobil dari jalanan.

Data pemerintah Inggris menunjukkan bahwa konsumsi daging terus menurun. Antara tahun 1980 hingga 2022, konsumsi daging sapi, babi, dan domba mengalami penurunan hingga 62%. Meski alasannya beragam, mulai dari kesadaran lingkungan hingga harga daging yang terus meningkat, banyak orang kini mulai bereksperimen dengan pola makan yang mengurangi atau bahkan menghilangkan daging.

Namun, muncul pertanyaan, apakah tubuh bisa kehilangan kemampuannya untuk mencerna daging setelah sekian lama tidak mengonsumsinya? Beberapa orang yang kembali makan daging setelah berhenti dalam waktu lama melaporkan efek samping seperti sakit perut, kembung, atau gangguan pencernaan lainnya. Fenomena ini bahkan menjadi perdebatan di media sosial.

iklan gulaku

Profesor Sander Kersten, pakar nutrisi dari Cornell University, mengatakan bahwa penelitian mengenai efek pencernaan akibat berhenti makan daging masih sangat terbatas.

"Kurangnya bukti bukan berarti fenomena ini tidak ada, hanya saja belum banyak yang meneliti," katanya.

Secara biologis, tubuh manusia seharusnya tetap mampu mencerna daging dengan baik, bahkan setelah bertahun-tahun tidak mengonsumsinya. Daging sebenarnya lebih mudah dicerna dibandingkan serat dari buah, sayuran, atau kacang-kacangan, yang membutuhkan bantuan mikrobiota usus untuk dipecah. Selain itu, enzim yang digunakan untuk mencerna protein nabati dan hewani adalah sama. Enzim ini mengenali dan memutus ikatan kimia dalam protein tanpa memandang sumbernya, baik itu dari kedelai, kacang polong, atau steak.

Situasi ini berbeda dengan intoleransi laktosa, di mana tubuh membutuhkan enzim spesifik bernama laktase untuk mencerna gula susu. Jika tubuh kekurangan enzim ini, seseorang bisa mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi produk susu. Namun, dengan protein daging, tidak ada alasan bagi tubuh untuk tiba-tiba kehilangan kemampuan mencernanya.

Meski begitu, mikrobiota usus manusia memang dapat berubah berdasarkan pola makan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikrobioma orang yang mengonsumsi daging dan mereka yang menjalani pola makan vegetarian atau vegan memang sedikit berbeda, meski tidak secara radikal. Mikroba usus bisa beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pola makan. Dalam satu studi, peralihan ke pola makan berbasis hewani sepenuhnya menunjukkan perubahan mikrobiota hanya dalam waktu satu hari, dan kembali normal setelah pola makan tersebut dihentikan.

Faktanya, perubahan pola makan yang lebih drastis, seperti tiba-tiba mengonsumsi banyak serat setelah lama tidak memakannya, justru lebih mungkin menyebabkan masalah pencernaan.

"Bergantung pada jenis seratnya, reaksi tubuh bisa cukup kuat," kata Kersten.

Jadi, bagi mereka yang khawatir tubuhnya 'melupakan' cara mencerna daging setelah sekian lama, tampaknya itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Jika mengalami sakit perut setelah kembali mengonsumsi daging, kemungkinan besar penyebabnya bukan karena tubuh kehilangan enzim pencernaan, tetapi faktor lain yang masih perlu diteliti lebih lanjut.

"Tubuh manusia sangat adaptif. Kemampuannya lebih luar biasa dari yang kita kira," kata Kersten.

  • Tag:
  • Daging Empuk
  • Memasak Daging
  • makanan

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today