Penulis Australia Marah Besar, Karya Mereka Diduga Digunakan Meta untuk Melatih AI Tanpa Izin
JAKARTA, GENVOICE.ID - Para penulis Australia mengungkapkan kemarahan mereka setelah mengetahui karya mereka diduga termasuk dalam dataset buku bajakan yang digunakan Meta untuk melatih kecerdasan buatan (AI)-nya.
Dilansir dari Guardian, mereka merasa hak cipta mereka telah dilanggar dan menuntut tindakan hukum segera.
Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, saat ini tengah menghadapi gugatan hukum di Amerika Serikat oleh sejumlah penulis ternama, termasuk Ta-Nehisi Coates dan komedian Sarah Silverman, atas dugaan pelanggaran hak cipta.
Dalam dokumen pengadilan Januari lalu, terungkap bahwa CEO Meta, Mark Zuckerberg, disebut menyetujui penggunaan dataset LibGen - sebuah arsip buku daring yang dikenal berisi materi bajakan, untuk melatih model AI perusahaan. Padahal, tim eksekutif AI Meta sudah memperingatkan bahwa dataset tersebut adalah "bajakan yang jelas".
Database yang dipublikasikan The Atlantic memungkinkan penulis mencari nama mereka untuk mengetahui apakah karya mereka telah disertakan dalam dataset tersebut. Sejumlah buku penulis Australia diketahui masuk dalam daftar, termasuk karya mantan perdana menteri Malcolm Turnbull, Kevin Rudd, Julia Gillard, dan John Howard.
Holden Sheppard, penulis novel remaja populer Invisible Boys yang telah diadaptasi menjadi serial di Stan, mengungkapkan kemarahannya setelah mengetahui dua bukunya dan dua cerpennya diduga digunakan tanpa izin untuk melatih AI Meta.
"Saya benar-benar marah. Buku-buku saya kembali dibajak dan digunakan tanpa persetujuan saya untuk melatih sistem AI generatif yang tidak hanya tidak etis dan ilegal dalam bentuknya saat ini, tetapi juga sesuatu yang sangat saya tolak," kata Sheppard.
Ia menekankan bahwa tak satu pun dari ribuan penulis yang karyanya diambil telah diberikan kompensasi.
"Meta memiliki nilai miliaran dolar, mereka jelas mampu membayar penulis dengan adil. Yang lebih penting, mereka tidak kebal hukum dan wajib memperoleh izin sebelum menggunakan karya kami," tegasnya.
Sheppard juga mendesak pemerintah Australia untuk segera bertindak dengan menerapkan regulasi khusus AI yang memastikan kepatuhan pengembang teknologi terhadap undang-undang hak cipta.
Jurnalis dan penulis Tracey Spicer menemukan dua bukunya, The Good Girl Stripped Bare dan Man-Made, termasuk dalam dataset tersebut. Buku terakhirnya justru membahas dampak perkembangan kecerdasan buatan.
"Saya merasa dilanggar. Ini benar-benar pukulan telak. Penulis tidak menghasilkan banyak uang, terutama di pasar kecil seperti Australia," katanya.
Spicer menyerukan agar ada gugatan hukum bersama di Australia dan mendesak para penulis untuk menghubungi anggota parlemen federal mereka.
Sementara itu, Alexandra Heller-Nicholas, kritikus film pemenang penghargaan dan penulis sepuluh buku tentang film kultus, menemukan delapan bukunya, termasuk yang ia sunting bersama, juga digunakan tanpa izin.
"Ini adalah hasil dari seluruh hidup saya. Saya merasa kesal, marah, dan yang paling utama, kelelahan," ujarnya.
Menyikapi kejadian ini, Australian Society of Authors (ASA) meminta para penulis untuk menghubungi mereka guna memperjuangkan hak mereka. Ironisnya, seruan ini disampaikan melalui Facebook, platform milik Meta.
Ketua ASA, Sophie Cunningham, mengatakan telah berkomunikasi dengan puluhan penulis yang karyanya disertakan dalam dataset tersebut.
"Perusahaan besar meraup keuntungan, sementara para penulis semakin diperlakukan seperti budak. Sebagian besar penulis beruntung jika bisa menghasilkan AUD 18.000 per tahun, dan sekarang mereka bahkan tidak diberi hak untuk memutuskan apakah karya mereka boleh digunakan," tegasnya.
Menurut Cunningham, Meta menunjukkan sikap merendahkan terhadap para penulis.
Meta menolak memberikan komentar dengan alasan gugatan hukum yang masih berlangsung. Namun, laporan menyebut bahwa perusahaan tersebut telah melobi pemerintahan Trump agar menerbitkan perintah eksekutif yang menyatakan bahwa pelatihan AI menggunakan data berhak cipta merupakan praktik yang sah berdasarkan prinsip fair use.
Di sisi lain, perusahaan penerbitan mulai mempertimbangkan pendekatan berbeda. Awal bulan ini, penerbit Melbourne Black Inc Books memicu kontroversi dengan meminta para penulisnya untuk memberikan izin eksplisit agar karya mereka dapat digunakan dalam pelatihan AI.
Beberapa perusahaan AI telah mulai mencapai kesepakatan dengan penerbit untuk menggunakan konten mereka secara sah. Contohnya, OpenAI menandatangani perjanjian dengan The Guardian pada Februari lalu untuk menggunakan konten medianya dalam pengembangan ChatGPT.
Dengan maraknya penggunaan AI dan eksploitasi data berhak cipta, para penulis kini dihadapkan pada tantangan besar dalam melindungi karya mereka dari penyalahgunaan oleh raksasa teknologi.
0 Comments





- Dominic Fike Kembali di Euphoria Musim 3, HBO Hadirkan Wajah Baru
- Mengenal Flaxseed, Superfood Kecil dengan Manfaat Besar untuk Jantung dan Kesehatan
- Conan O’Brien Kembali Jadi Pembawa Acara Oscars 2026 Setelah Sukses Besar!
- Revolusi Pengobatan Kanker Payudara di China, Pedoman dari CSCO BC 2024
- Hindari Kesalahan Ini Saat Mendaki, Panduan Wajib bagi Pemula!
- Patrick Cantlay Pastikan Kemenangan Atlanta Drive GC di Final TGL
- Lima Pekerja Thailand Pulang Setelah Lebih dari Setahun Disandera di Gaza
- Baru Dirilis, Teaser Terbaru dari 'Jurassic World Rebirth' Sukses Bikin Penggemar Terpukau
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!