JAKARTA, GENVOICE.ID - Fenomena meteor yang sempat terlihat di langit Cirebon beberapa waktu lalu membuat warga geger.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa wilayah Indonesia memiliki potensi terdampak jatuhan benda antariksa karena berada di garis ekuator, jalur yang kerap dilintasi asteroid.
Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat seiring beredarnya kabar prediksi tabrakan asteroid pada 2032 yang disebut-sebut berpotensi menghancurkan sebuah kota. Meski demikian, para ahli menilai kemungkinan tersebut masih sangat kecil.
Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Nugroho Imam Setiawan, menjelaskan bahwa fenomena meteor jatuh dapat dilihat dari dua sisi, yakni sebagai potensi musibah sekaligus sumber ilmu pengetahuan.
Menurutnya, meteorit yang mencapai permukaan Bumi menyimpan informasi penting terkait komposisi batuan di sekitar Bumi hingga sejarah pembentukan tata surya. "Umur meteorit bisa menjadi informasi umur bumi, serta membantu memahami bagaimana sistem tata surya terbentuk," ujarnya.
Selain itu, meteorit juga mengandung material berharga seperti logam dan mineral langka yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian. Bahkan, beberapa meteorit diketahui membawa senyawa organik seperti asam amino, yang merupakan salah satu dasar pembentukan kehidupan.
Namun, Nugroho menekankan bahwa kandungan tersebut sangat rentan hilang akibat suhu tinggi saat meteorit memasuki atmosfer. Struktur batuan menjadi faktor penentu apakah senyawa tersebut bisa bertahan hingga mencapai permukaan.
Ia juga mengingatkan pentingnya prosedur pengambilan sampel meteorit. Semakin cepat diambil setelah jatuh, semakin baik kualitas dan keasliannya. Jika terlalu lama, meteorit dapat bercampur dengan tanah dan mengalami pelapukan.
Dalam konteks risiko, Nugroho tidak menampik bahwa meteorit berukuran besar dapat menimbulkan dampak serius, seperti kerusakan di permukiman hingga potensi tsunami jika jatuh di laut. Karena itu, pemantauan astronomi dinilai penting untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa Bumi memiliki perlindungan alami berupa atmosfer yang mampu menghancurkan atau memperkecil ukuran benda luar angkasa sebelum mencapai permukaan.
Terkait isu tabrakan asteroid pada 2032, Nugroho menilai peluangnya sangat kecil. Namun, ia mengakui bahwa potensi jatuhan meteorit tetap ada mengingat banyaknya asteroid yang melintas di sekitar orbit Bumi.
"Harapannya, jika pun terjadi, ukuran meteorit yang jatuh kecil dan tidak menimbulkan kerusakan," ujarnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!