JAKARTA, GENVOICE.ID - Negara-negara kawasan Teluk menegaskan tekad untuk mempertahankan diri dari serangan Iran, termasuk opsi "membalas agresi" jika diperlukan. Sikap itu disampaikan usai pertemuan darurat para menteri luar negeri anggota Gulf Cooperation Council (GCC) yang digelar melalui konferensi video pada Minggu (1/3) waktu setempat.
Enam negara anggota GCC - Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait - membahas dampak serangan Iran yang disebut telah menyebabkan kerusakan luas di sejumlah titik strategis.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan, negara-negara tersebut menegaskan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan, termasuk melindungi wilayah serta warga negaranya.
"Negara-negara anggota akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan keamanan dan stabilitas mereka serta untuk melindungi wilayah, warga negara, dan penduduk mereka, termasuk opsi untuk merespons agresi," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Selain itu, GCC juga menyerukan penghentian segera serangan dan memperingatkan bahwa stabilitas kawasan Teluk tidak hanya berdampak secara regional, tetapi juga memiliki implikasi besar terhadap perekonomian global, khususnya sektor energi dan jalur distribusi minyak dunia.
Eskalasi Pasca-Serangan AS-Israel
Ketegangan meningkat setelah Iran menembakkan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan Teluk sebagai respons atas serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Presiden AS Donald Trump mengklaim operasi militer tersebut sebagai keberhasilan besar. Dalam wawancara dengan media AS, ia menyebut sebanyak 48 pemimpin Iran tewas dalam satu gelombang serangan.
"Tidak ada yang percaya dengan kesuksesan yang kita raih, sebanyak 48 pemimpin telah tewas dalam satu serangan. Dan ini berlangsung dengan cepat," ujar Trump.
Ia juga menyatakan bahwa operasi militer yang dimulai pada Sabtu (28/2) bertujuan melumpuhkan kepemimpinan dan kekuatan militer Iran. Menurutnya, perkembangan situasi pasca-serangan menunjukkan hasil yang "sangat positif".
"Kita melakukan pekerjaan kita bukan hanya untuk kita, tetapi untuk dunia. Dan semuanya berjalan lebih cepat dari jadwal," katanya dalam wawancara terpisah.
Kawasan di Titik Genting
Langkah tegas GCC memperlihatkan kekhawatiran serius negara-negara Teluk terhadap potensi meluasnya konflik. Dengan Iran yang terus melancarkan serangan balasan dan Amerika Serikat serta Israel mempertahankan operasi militernya, kawasan Timur Tengah kini berada dalam fase paling rawan dalam beberapa tahun terakhir.
Jika eskalasi tidak segera diredam, konflik berisiko mengganggu stabilitas energi global dan menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran perang terbuka di kawasan Teluk.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!