Freesca Syafitri: Kurangi Kebergantungan ke Pasar Ekspor Konvensional
JAKARTA - Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti menyarankan agar Indonesia juga memikirkan skenario lain melihat ketidakpastian perkembangan terkini negosiasi tarif dengan AS. "Pemerintah perlu mencari pangsa pasar baru dengan memberikan insentif bagi produk ekspor Indonesia agar bisa penetrasi," katanya, Kamis (3/7), menanggapi proses negosiasi tarif dengan Amerika Serikat yang tenggatnya segera berakhir.
Senada dengan Esther, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Freesca Syafitri berpendapat, kebergantungan terhadap pasar konvensional seperti AS dan struktur ekspor yang belum terdiversifikasi menjadikan Indonesia sangat rentan terhadap kebijakan eksternal seperti saat ini.
Namun demikian, katanya, dalam tekanan seperti ini justru harus didorong untuk bertransformasi.
"Alih-alih hanya menunggu dan mengeluh, Indonesia perlu menjadikan momen ini sebagai titik balik untuk memperkuat strategi ekspornya secara struktural dan jangka panjang. Pemerintah Indonesia harus segera mengambil langkah-langkah strategis yang multidimensi," tegasnya.
Dari sisi kebijakan ekonomi, katanya, langkah paling mendesak adalah mendorong diversifikasi pasar ekspor. "Ketergantungan terhadap segelintir negara tujuan menjadikan ekspor Indonesia rapuh. Kawasan nontradisional seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan harus dijadikan pasar alternatif yang potensial," tegas Freesca.
Perjanjian perdagangan bebas seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan kerja sama dengan Uni Eropa melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) harus dimanfaatkan secara maksimal, bukan hanya sebagai dokumen formal, tetapi sebagai alat strategis membuka pasar baru.
Sangat Serius
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, Indonesia sangat serius merespons tarif resiprokal dari AS, dimana saat ini, tim Indonesia sudah berada di Washington bersama dengan negara-negara lain seperti India, Jepang, Uni Eropa, Vietnam dan Malaysia.
Ia mengatakan respon yang serius itu ditandai dengan menyampaikan penawaran yang sudah dibahas dengan kantor perwakilan dagang AS, United States Trade Representative (USTR), Secretary of Commerce atau Menteri Perdagangan dan Secretary of Treasury AS atau Menteri Keuangan.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut sampai saat ini belum ada kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait dengan negosiasi tarif resiprokal sebesar 32 persen.
"Kita masih tunggu dengan Amerika, belum deal dan sebagainya. Jadi nunggu waktu, di negara lain juga belum deal semua," kata Budi di Jakarta, Rabu (2/7).
Budi berharap negosiasi dengan Amerika Serikat dapat berjalan dengan mulus, meski sudah mendekati batas akhir yakni pada 8 Juli mendatang.
Apalagi, AS merupakan negara penyumbang surplus nomor satu bagi neraca perdagangan Indonesia dengan nilai 7,08 miliar dollar AS, disusul India dengan nilai 5,30 miliar dollar AS dan Filipina sebesar 3,69 miliar dollar AS.
Untuk mempertahankan angka tersebut, Kementerian Perdagangan katanya melakukan identifikasi komoditas unggulan untuk ekspor ke Amerika. Pemerintah kata Budi masih terus menunggu proses negosiasi, sambil melakukan persiapan apabila diplomasi tidak berjalan dengan baik.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!