Mama-Mama Mahasiswa Trisakti Pasang Badan, Tak Terima Anak Dituding Mahasewa Rp100 Ribu

Tudingan mahasiswa Trisakti dibayar Rp100 ribu untuk ikut demonstrasi memicu reaksi para ibu di Threads. Mereka membalas dengan sindiran hingga cerita perjuangan anak saat turun ke jalan.

Mama-Mama Mahasiswa Trisakti Pasang Badan, Tak Terima Anak Dituding Mahasewa Rp100 Ribu
Mahasiswa Trisakti. - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti pada 29 Oktober 2026 tidak hanya menjadi perbincangan karena aksi penyampaian aspirasi di jalanan. Setelah muncul tudingan bahwa mahasiswa yang ikut demonstrasi merupakan peserta bayaran atau disebut "mahasewa", para ibu mereka justru ramai-ramai turun tangan membela anak masing-masing di media sosial.

Sejumlah akun Threads yang mengaku sebagai ibu mahasiswa sekaligus alumni Universitas Trisakti menyampaikan protes terhadap tudingan tersebut. Mereka tidak terima anak-anaknya dianggap mengikuti demonstrasi hanya karena mendapatkan imbalan uang sebesar Rp100 ribu.

Istilah "mahasewa" digunakan dalam percakapan media sosial untuk menyebut mahasiswa yang dituding dibayar agar mengikuti aksi demonstrasi. Namun, tudingan tersebut tidak disertai bukti yang ditampilkan dalam unggahan-unggahan yang dibagikan para ibu.

Alih-alih membalas dengan kemarahan semata, Mama-Mama Trisakti justru melontarkan berbagai sindiran yang mengundang perhatian warganet. Mereka membandingkan nominal Rp100 ribu dengan uang jajan, ongkos transportasi, hingga kebutuhan anak selama mengikuti aksi.

Sindiran Uang Rp100 Ribu dari Mama-Mama Trisakti

Salah satu unggahan yang ramai dibicarakan berasal dari akun Threads @nina_ys80. Ia mempertanyakan tudingan bahwa mahasiswa Trisakti bersedia mengikuti demonstrasi hanya karena dijanjikan uang Rp100 ribu.

Dengan gaya bahasa ceplas-ceplos, ia membandingkan nominal tersebut dengan uang jajan harian anaknya. Unggahan itu sekaligus memperlihatkan kekesalannya karena anak-anak mahasiswa dianggap sebagai peserta aksi bayaran.

"Woy bajer syalan, anak gw ama temen2nya ganteng gini masa Bilang mahasewa 100rebu. Seeeeeet, diketawain loooooooo ama jajan anak gw sehari," tulis akun tersebut.

Sindiran itu kemudian menarik perhatian pengguna Threads lainnya. Nominal Rp100 ribu yang disebut-sebut sebagai bayaran justru dijadikan bahan lelucon oleh sang ibu untuk membantah anggapan bahwa anaknya turun ke jalan demi mendapatkan uang.

Akun @bebek.muter juga ikut meramaikan percakapan dengan menyindir pihak-pihak yang menyebarkan tudingan mahasiswa Trisakti sebagai peserta demonstrasi bayaran. Ia bahkan mempertanyakan standar berpikir orang-orang yang melontarkan tuduhan tersebut.

"JANGAN-JANGAN BUKAN MAHASISWANYA YANG MURAH, TAPI STANDAR BERPIKIR KALIAN YANG TERLALU RENDAH WOI BUZZER," tulisnya.

Komentar tersebut menjadi salah satu respons yang banyak diperbincangkan dalam rangkaian unggahan Mama-Mama Trisakti. Mereka menilai tudingan tanpa bukti dapat merendahkan perjuangan mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi.

Cerita Anak Minta Saldo DANA hingga Takut Ditangkap

Pembelaan para ibu ternyata tidak hanya berisi sindiran mengenai uang Rp100 ribu. Salah satu unggahan dari akun @tianapottag justru memperlihatkan sisi lain dari pengalaman orang tua ketika anaknya mengikuti demonstrasi.

Dalam unggahannya, ia menceritakan bahwa sang anak sempat meminta tambahan saldo dompet digital setelah mengikuti aksi. Anaknya juga mengaku khawatir rekening ATM miliknya dibekukan.

Tidak hanya itu, sang anak sempat mengirim pesan kepada ibunya karena merasa takut menghadapi kemungkinan buruk selama demonstrasi. Ia bahkan meminta doa agar bisa melewati situasi tersebut.

"Doain Ma, aku takut asline," tulis sang anak dalam pesan yang dibagikan.

Respons sang ibu pun menjadi perhatian warganet. Ketika anaknya menyinggung kemungkinan ditangkap aparat, sang ibu menjawab dengan singkat dan penuh keyakinan.

"Tak bebasin!" jawabnya.

Ia kemudian menegaskan bahwa jika ada pihak yang mempertanyakan siapa yang membiayai anaknya selama mengikuti demonstrasi, jawabannya adalah dirinya sendiri sebagai orang tua.

"KALAU SOAL SIAPA YANG BAYAR ANAK SAYA, JAWABANNYA SAYA, EMAKNYA SENDIRI!" tulisnya.

Cerita tersebut memperlihatkan dukungan orang tua yang tetap hadir meskipun mereka memiliki kekhawatiran terhadap keselamatan anak saat mengikuti aksi. Unggahan itu juga memperlihatkan bahwa kebutuhan selama demonstrasi, termasuk uang transportasi dan bekal, dapat dipenuhi oleh keluarga sendiri.

Mama-Mama Trisakti Ramai Dapat Dukungan Warganet

Rangkaian unggahan tersebut kemudian memunculkan fenomena yang ramai disebut sebagai Mama-Mama Have Trisakti. Banyak pengguna media sosial memberikan dukungan kepada para ibu yang berani membela anak-anak mereka dari tudingan sebagai peserta demonstrasi bayaran.

Sebagian warganet menganggap sikap para ibu sebagai bentuk dukungan terhadap kebebasan anak untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapat. Ada pula pengguna media sosial yang mengaku ingin memiliki keberanian serupa ketika kelak anak mereka memasuki usia kuliah.

Perhatian terhadap aksi mahasiswa Trisakti juga meningkat setelah demonstrasi pada 29 Oktober 2026. Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah Zahra Nazira, Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Trisakti, yang terlihat menyampaikan orasi dari atas kap mobil komando.

Peristiwa tersebut turut menjadi bahan perbincangan di media sosial, terutama setelah muncul tudingan mengenai mahasiswa yang disebut mendapatkan bayaran untuk mengikuti demonstrasi. Namun, label peserta bayaran tidak semestinya dilekatkan kepada seseorang tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi para ibu yang ikut bersuara, anak-anak mereka memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam kegiatan demokrasi. Dukungan keluarga pun menjadi salah satu hal yang mereka tunjukkan ketika anak-anaknya memilih turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE