Sarah Sechan Kritik Klarifikasi Raffi Ahmad soal Acara Sumpah Pemuda, Pertanyakan Integritas Sang Presenter

Sarah mempertanyakan alasan Raffi mengaku hanya diundang dan tidak mengetahui detail acara di Bundaran HI, padahal ia tampil sebagai juru bicara kegiatan tersebut.

Sarah Sechan Kritik Klarifikasi Raffi Ahmad soal Acara Sumpah Pemuda, Pertanyakan Integritas Sang Presenter
Sarah Sechan dan Raffi Ahmad. - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Presenter Sarah Sechan ikut angkat bicara mengenai polemik kehadiran Raffi Ahmad dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Sarah mengkritik isi klarifikasi Raffi yang mengaku hanya memenuhi undangan dan tidak mengetahui secara detail kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Kritik tersebut disampaikan Sarah melalui akun Threads pribadinya, @sarsehshoku, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Ia mempertanyakan alasan Raffi tetap berpartisipasi dalam acara tersebut, terlebih karena menurut pengamatannya, Raffi terlihat menjalankan peran sebagai juru bicara atau spokesperson.

Sebelumnya, Raffi telah menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf melalui video yang diunggah di akun Instagram resminya pada Minggu, 1 November 2026. Dalam pernyataannya, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni itu menegaskan bahwa dirinya hadir karena mendapat undangan dari penyelenggara.

Sarah Sechan Pertanyakan Klarifikasi Raffi Ahmad

Dalam klarifikasinya, Raffi menjelaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara. Ia juga mengaku tidak mengetahui secara rinci informasi mengenai kegiatan tersebut dan berjanji akan lebih berhati-hati ketika menerima undangan serupa pada masa mendatang.

"Sudah menjadi kebiasaan dari sejak dulu, di setiap ada undangan, siapa pun yang mengundang saya, insyaallah saya selalu mengupayakan untuk hadir walaupun sebentar," ucap Raffi dalam video klarifikasinya.

Raffi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia meminta publik menjauhi ujaran kebencian, caci maki, dan fitnah yang dapat memperkeruh situasi.

"Dan kejadian ini menjadi pengingat bagi saya untuk lebih teliti, memahami informasi, dan lebih berhati-hati dalam mengambil langkah," sambungnya.

Namun, penjelasan tersebut justru memunculkan tanggapan dari Sarah. Ia menilai ada hal yang perlu dijelaskan lebih jauh karena posisi Raffi dalam acara tersebut terlihat bukan sekadar sebagai tamu undangan.

"Gini lho, Raffi, Anda tulis klarifikasi bahwa hanya diundang dan tidak tahu detail lebih banyak mengenai acara tsb. Tapi di acara itu terlihat sebagai spokesperson," tulis Sarah.

Sarah kemudian membandingkan situasi tersebut dengan pengalamannya ketika menerima tawaran menjadi pembawa acara maupun tamu dalam sebuah program televisi. Menurutnya, ia selalu berusaha mencari tahu informasi mengenai penyelenggara, konsep kegiatan, daftar tamu, hingga materi yang akan dibahas sebelum menyetujui undangan.

"Saya setiap diminta jadi pembawa acara selalu tanya detail; siapa yg bikin, konsep acara, siapa yg hadir, apa yang harus disampaikan, rundown acara, siapa pengisi acara, dll," tulisnya.

Ia juga mengaku tidak selalu menerima setiap tawaran pekerjaan yang datang kepadanya. Karena itu, Sarah mempertanyakan apakah Raffi benar-benar tidak mengetahui kondisi acara yang dihadirinya.

Singgung Dugaan Peserta Bukan Mahasiswa

Sarah juga mempertanyakan kemungkinan Raffi merasa menjadi korban prank dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, ketika sudah tiba di lokasi, Raffi masih memiliki kesempatan untuk mencari tahu siapa saja peserta yang hadir dan memastikan identitas mereka.

"Kalau memang kena prank, pas sampai di lokasi kan bisa lihat di situ ada siapa saja, bisa tanya apakah betul dihadiri mahasiswa. Tanya langsung ke yang ngaku2 mahasiswa mereka dari kampus mana. Bisa langsung kelihatan dong kalau ternyata bukan?" tulis Sarah.

Kritik tersebut berkaitan dengan polemik peserta dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026. Kegiatan itu menuai kontroversi setelah beredar dugaan bahwa sejumlah orang yang mengenakan jas almamater bukan mahasiswa aktif dari kampus yang tercantum pada pakaian mereka.

Persoalan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai proses perekrutan dan kehadiran peserta dalam acara. Polda Metro Jaya selaku penyelenggara menyatakan bahwa Raffi dan kreator konten Willie Salim hadir atas undangan kepolisian, sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas polemik yang muncul.

Sarah menilai Raffi seharusnya dapat mengambil keputusan untuk meninggalkan acara apabila menemukan kejanggalan. Ia juga mempertanyakan keputusan sang presenter yang tetap mengikuti kegiatan dan meneriakkan dukungan kepada mahasiswa.

"Nah, setelah itu tetap memutuskan untuk partisipasi dalam acara tsb dan teriak 'hidup mahasiswa!' ??? Bisa lho memutuskan untuk pergi. Itu namanya Integritas. Salam tiga jari," tegas Sarah.

Kehadiran Raffi Ahmad Tuai Kritik Setelah Demonstrasi Mahasiswa

Polemik tersebut tidak bisa dilepaskan dari waktu penyelenggaraan deklarasi yang berlangsung sehari setelah demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil pada 28 Oktober 2026. Aksi tersebut menjadi ruang penyampaian aspirasi mengenai berbagai persoalan, termasuk biaya pendidikan dan isu lingkungan.

Sementara itu, acara deklarasi di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 justru menuai kritik setelah muncul dugaan adanya peserta yang bukan mahasiswa aktif. Situasi tersebut memicu perdebatan di media sosial mengenai penggunaan atribut kampus dan keterlibatan orang-orang yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, kehadiran Raffi dalam acara tersebut turut menjadi perhatian publik. Sebagian pihak mempertanyakan ketelitian seorang pejabat publik ketika menerima undangan kegiatan yang membawa nama mahasiswa dan generasi muda.

Raffi sendiri telah menyampaikan permohonan maaf dan menyebut kejadian tersebut sebagai pelajaran agar lebih teliti dalam memahami informasi sebelum menghadiri suatu kegiatan. Ia juga menegaskan tidak memiliki niat untuk merendahkan atau mencederai semangat perjuangan generasi muda.

Kritik Sarah Sechan kemudian menambah panjang perdebatan mengenai tanggung jawab figur publik ketika terlibat dalam kegiatan yang membawa isu sosial dan kepentingan masyarakat. Bagi Sarah, persoalannya bukan hanya apakah Raffi mengetahui detail acara sejak awal, tetapi juga keputusan yang diambil setelah berada di lokasi.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE