Sering Dianggap Sepele, 10 Gejala Kanker Usus Besar Ini Bisa Muncul Tanpa Disadari
Kanker usus besar dapat berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Kenali tanda-tandanya, faktor risiko, pemeriksaan, hingga cara pengobatannya sebelum terlambat.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kanker usus besar merupakan salah satu penyakit serius yang terjadi ketika sel abnormal tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali di jaringan usus besar. Penyakit ini dapat bermula dari polip, yaitu pertumbuhan jaringan yang pada awalnya bersifat jinak tetapi dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi kanker.
Salah satu hal yang membuat kanker usus besar perlu diwaspadai adalah kemunculannya yang sering kali tidak disadari pada tahap awal. Bahkan, seseorang dapat tidak merasakan keluhan apa pun meski proses penyakit sudah mulai berkembang.
Karena itu, perubahan pada kebiasaan buang air besar maupun keluhan pencernaan yang terjadi berulang sebaiknya tidak dianggap sepele. Deteksi lebih awal dapat membantu dokter menentukan penanganan yang sesuai dan meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
Kanker Usus Besar Bisa Berawal dari Polip
Kanker usus besar berkaitan dengan perubahan atau mutasi gen pada sel-sel di jaringan usus besar. Meski penyebab pasti perubahan tersebut masih terus diteliti, sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit ini.
Gaya hidup menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Pola makan rendah serat, terlalu banyak mengonsumsi daging merah dan makanan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta konsumsi minuman beralkohol dapat meningkatkan risiko.
Selain gaya hidup, faktor keturunan dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat berperan. Risiko dapat lebih tinggi pada orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker usus besar, pernah mengalami polip usus, mengalami obesitas atau diabetes, serta memiliki penyakit radang usus.
Orang yang pernah menjalani radioterapi di area perut juga memiliki faktor risiko tertentu. Begitu pula mereka yang memiliki kelainan genetik seperti familial adenomatous polyposis (FAP) atau sindrom Lynch.
Usia juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena risiko kanker usus besar cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
10 Gejala Kanker Usus Besar yang Perlu Diwaspadai
Kanker usus besar pada tahap awal dapat tidak menimbulkan keluhan. Namun, ketika gejala mulai muncul, beberapa perubahan pada sistem pencernaan maupun kondisi tubuh secara umum dapat menjadi tanda yang perlu diperiksa.
1. Diare atau Sembelit Berulang
Perubahan kebiasaan buang air besar yang berlangsung terus-menerus perlu mendapat perhatian. Diare atau sembelit yang berulang tanpa penyebab yang jelas dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada usus.
2. Perut Kembung
Perut terasa penuh atau kembung secara berulang juga dapat muncul pada penderita kanker usus besar. Keluhan ini perlu diperhatikan terutama jika disertai perubahan pola BAB.
3. Kram dan Sakit Perut
Rasa sakit, kram, atau ketidaknyamanan pada bagian perut yang terus berulang dapat menjadi tanda adanya masalah pada saluran pencernaan. Pemeriksaan diperlukan jika keluhan tidak kunjung membaik atau disertai gejala lain.
4. Bentuk Tinja Berubah
Perubahan bentuk tinja yang berlangsung cukup lama juga perlu diperhatikan. Kondisi ini dapat terjadi ketika terdapat perubahan pada saluran usus yang memengaruhi proses keluarnya tinja.
5. Warna Tinja Berubah
Perubahan warna tinja, terutama jika disertai adanya darah, dapat menjadi tanda gangguan pada saluran pencernaan. Tidak semua tinja berdarah disebabkan oleh kanker, tetapi keluhan tersebut tetap perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.
6. BAB Berdarah
Darah yang keluar bersama tinja menjadi salah satu tanda yang tidak boleh diabaikan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, termasuk gangguan pada anus atau usus, sehingga pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
7. BAB Terasa Tidak Tuntas
Penderita dapat merasakan seperti masih ingin buang air besar meskipun sudah selesai BAB. Sensasi tersebut dapat muncul berulang dan menjadi salah satu keluhan yang perlu diperhatikan.
8. Kelelahan
Kanker usus besar dapat menyebabkan tubuh terasa lebih mudah lelah. Kondisi ini bisa berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk perdarahan yang berlangsung secara perlahan sehingga memengaruhi kondisi tubuh.
9. Berat Badan Turun Drastis
Penurunan berat badan tanpa perubahan pola makan atau aktivitas fisik yang jelas perlu diperhatikan. Penurunan berat badan yang tidak direncanakan dapat menjadi tanda adanya penyakit tertentu, termasuk kanker.
10. Gejala Ketika Kanker Menyebar
Jika kanker telah menyebar ke organ lain, gejala yang muncul dapat berbeda-beda tergantung lokasi penyebarannya. Keluhan yang dapat terjadi antara lain sakit kuning, sesak napas, sakit kepala, pembengkakan pada anggota tubuh, gangguan penglihatan, hingga patah tulang.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Karena kanker usus besar bisa tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, pemeriksaan menjadi penting terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko. Jangan menunggu sampai keluhan menjadi berat sebelum berkonsultasi dengan dokter.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan jika mengalami diare atau sembelit yang berulang, perubahan bentuk maupun warna tinja, BAB berdarah, atau merasa BAB tidak pernah benar-benar tuntas.
Orang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat kanker usus besar juga perlu lebih waspada. Dokter dapat menentukan apakah seseorang membutuhkan pemeriksaan lebih awal atau skrining secara berkala.
Bagaimana Kanker Usus Besar Didiagnosis?
Dokter biasanya akan terlebih dahulu menanyakan keluhan, riwayat kesehatan, gaya hidup, serta riwayat kanker dalam keluarga. Pemeriksaan fisik kemudian dapat dilanjutkan dengan sejumlah pemeriksaan penunjang.
Kolonoskopi
Kolonoskopi merupakan pemeriksaan yang memungkinkan dokter melihat bagian dalam usus besar menggunakan selang fleksibel yang dilengkapi kamera. Alat tersebut dimasukkan melalui anus untuk melihat apakah terdapat polip, jaringan abnormal, atau kelainan lain.
Pemeriksaan ini juga memungkinkan dokter mengambil sampel jaringan apabila ditemukan bagian yang mencurigakan.
Biopsi
Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel jaringan untuk diperiksa menggunakan mikroskop. Pemeriksaan ini membantu memastikan apakah jaringan tersebut mengandung sel kanker atau tidak.
Biopsi dapat dilakukan ketika kolonoskopi berlangsung maupun melalui prosedur tertentu sesuai kondisi pasien.
CT Scan dan Pemeriksaan Lain
Dokter dapat menggunakan CT scan untuk melihat kondisi usus besar serta jaringan di sekitarnya secara lebih detail. Pemeriksaan pencitraan juga dapat membantu mengetahui apakah kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain.
Tes darah juga dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh dan fungsi organ tertentu, termasuk hati dan ginjal. Pada kondisi tertentu, dokter dapat memeriksa kadar CEA sebagai salah satu penanda yang dapat digunakan untuk membantu pemantauan pasien kanker usus besar.
Skrining Penting untuk Deteksi Dini
Skrining dilakukan untuk menemukan tanda awal kanker atau perubahan yang berpotensi berkembang menjadi kanker sebelum muncul gejala. Pemeriksaan ini menjadi semakin penting bagi orang yang memiliki faktor risiko.
Beberapa metode skrining yang dapat digunakan antara lain pemeriksaan tinja, kolonoskopi, serta pemeriksaan pencitraan tertentu. Jadwal pemeriksaan tidak selalu sama untuk setiap orang karena dipengaruhi usia dan tingkat risiko.
Karena itu, orang dengan riwayat keluarga kanker usus besar atau faktor risiko tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan metode dan jadwal skrining yang paling sesuai.
Kanker Usus Besar Memiliki 4 Stadium
Tingkat keparahan kanker usus besar umumnya ditentukan berdasarkan seberapa jauh sel kanker berkembang dan menyebar.
Stadium 1 menunjukkan kanker masih berada di jaringan usus besar dan belum menyebar jauh. Pada stadium 2, sel kanker sudah menembus lebih dalam hingga dinding usus besar.
Sementara itu, stadium 3 menunjukkan kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitar usus. Pada stadium 4, kanker sudah menyebar ke organ lain, seperti hati atau paru-paru.
Penentuan stadium sangat penting karena akan menjadi salah satu dasar bagi dokter dalam menentukan pilihan pengobatan.
Pilihan Pengobatan Kanker Usus Besar
Penanganan kanker usus besar disesuaikan dengan stadium, lokasi kanker, kondisi kesehatan pasien, serta apakah kanker telah menyebar atau belum. Beberapa metode yang dapat digunakan meliputi operasi, kemoterapi, radioterapi, dan terapi target.
Operasi
Operasi bertujuan mengangkat bagian usus besar yang terkena kanker beserta jaringan tertentu di sekitarnya. Dokter juga dapat mengangkat kelenjar getah bening yang telah terkena penyebaran sel kanker.
Pada kondisi tertentu, dokter mungkin perlu membuat lubang pada dinding perut yang disebut stoma agar tinja dapat keluar dari tubuh. Prosedur ini dikenal sebagai kolostomi.
Kemoterapi
Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Jenis obat yang digunakan ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Kemoterapi dapat diberikan sebelum atau setelah operasi maupun untuk menangani kanker yang sudah menyebar, sesuai rencana dokter.
Radioterapi
Radioterapi menggunakan radiasi untuk menghancurkan sel kanker. Terapi ini dapat diberikan menggunakan sumber radiasi dari luar tubuh atau melalui metode tertentu yang menempatkan sumber radiasi di dekat area kanker.
Terapi Target
Terapi target dirancang untuk menyerang bagian tertentu dari sel kanker atau proses biologis yang membantu kanker berkembang. Beberapa obat yang dapat digunakan dalam kondisi tertentu antara lain bevacizumab, cetuximab, regorafenib, dan ramucirumab.
Pemilihan obat bergantung pada karakteristik kanker dan kondisi pasien. Karena itu, terapi target tidak diberikan secara sama kepada semua penderita kanker usus besar.
Cara Mengurangi Risiko Kanker Usus Besar
Tidak semua kasus kanker usus besar dapat dicegah. Namun, sejumlah perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan risiko penyakit tersebut.
Salah satu langkah penting adalah meningkatkan konsumsi makanan berserat, seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Aktivitas fisik secara rutin serta menjaga berat badan dalam rentang sehat juga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Berhenti merokok dan membatasi konsumsi minuman beralkohol juga menjadi langkah yang dianjurkan. Selain itu, jangan abaikan pemeriksaan skrining, terutama jika memiliki faktor risiko atau riwayat kanker usus besar dalam keluarga.
Semakin cepat kelainan ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan. Karena itu, perubahan pola BAB, darah pada tinja, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas sebaiknya tidak dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa dan perlu diperiksakan kepada tenaga medis.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!