Ini Profil Ali Khamenei, Sosok Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar tewasnya Ali Khamenei dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel langsung mengguncang politik global. Sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi figur paling berpengaruh di Iran itu bukan sekadar pemimpin negara, melainkan otoritas tertinggi politik sekaligus agama di Republik Islam.
Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, dari keluarga religius. Sejak muda, ia mendalami pendidikan Islam dan aktif dalam gerakan revolusioner yang menentang pemerintahan Shah Iran. Namanya mulai menanjak setelah terlibat dalam Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam.
Pasca-revolusi, Khamenei dipercaya menduduki berbagai posisi strategis. Ia sempat menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode pada 1981 hingga 1989. Setelah wafatnya Ruhollah Khomeini, Khamenei diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi Iran pada 1989, jabatan dengan kewenangan tertinggi yang mengendalikan militer, lembaga peradilan, kebijakan luar negeri, hingga keputusan strategis negara.
Selama memimpin, Khamenei dikenal dengan sikap keras terhadap Barat, terutama Amerika Serikat dan Israel. Ia menjadi tokoh sentral di balik kebijakan pertahanan Iran, termasuk dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu di Timur Tengah dan sikap tegas dalam isu nuklir. Di bawah kepemimpinannya, hubungan Iran dengan Barat kerap memanas, terutama setelah keluarnya AS dari kesepakatan nuklir 2015.
Di dalam negeri, kepemimpinan Khamenei juga tak lepas dari kontroversi. Sejumlah gelombang protes besar terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dipicu isu ekonomi, kebebasan sipil, dan kebijakan pemerintah. Namun, posisinya sebagai Pemimpin Tertinggi membuatnya tetap menjadi figur yang tak tergoyahkan dalam struktur kekuasaan Iran.
Laporan terbaru menyebut Khamenei tewas pada Sabtu (28/2) dini hari waktu setempat dalam serangan udara gabungan AS-Israel yang menghantam kompleks kediamannya. Pemerintah Iran melalui media resmi dan semi-resmi kemudian mengonfirmasi kematiannya serta mendeklarasikan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Kepergian Khamenei menandai babak baru dalam sejarah politik Iran. Sosok yang memegang kendali tertinggi sejak 1989 itu kini meninggalkan tanda tanya besar: siapa yang akan menggantikannya dan bagaimana arah Republik Islam Iran setelah era kepemimpinannya berakhir.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!