Harga Emas dan Perak Anjlok Tajam, Reli Logam Mulia Berbalik Arah
JAKARTA, GENVOICE.ID - Harga logam mulia mengalami tekanan hebat pada akhir pekan lalu.
Emas mencatat penurunan harian terbesar dalam hampir empat dekade, sementara perak membukukan penurunan intraday terdalam sepanjang sejarah. Kondisi ini menjadi pembalikan tajam setelah reli panjang yang sebelumnya mendorong harga logam mulia menembus rekor tertinggi.
Mengutip Bloomberg, harga emas dunia sempat anjlok lebih dari 12 persen hingga menembus ke bawah level USD 5.000 per ons. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak awal 1980-an. Pada saat yang sama, harga perak terjun hingga 36 persen dalam satu sesi perdagangan, mencatat rekor penurunan intraday terdalam sepanjang sejarah akibat gelombang aksi jual di pasar logam.
Tekanan juga menjalar ke komoditas lainnya. Harga tembaga di London turun 3,4 persen, terkoreksi dari level tertinggi yang sempat dicapai sehari sebelumnya, mencerminkan pelemahan sentimen di pasar komoditas global.
Secara rinci, harga emas spot (XAU) ditutup di level USD 4.894,23 per troy ounce, turun USD 481,01 atau 8,95 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di USD 5.375,24 per troy ounce. Sepanjang sesi perdagangan, tekanan jual sudah terlihat sejak awal. Harga emas bergerak turun tajam dan hanya sempat mencatat rebound terbatas menjelang penutupan. Secara intraday, emas bahkan sempat menyentuh area USD 4.800 per troy ounce sebelum ditutup sedikit lebih tinggi, meski tekanan jual tetap dominan.
Koreksi tajam ini terjadi di tengah volatilitas pasar global. Sebelumnya, emas berada di dekat level tertinggi dalam 52 minggu terakhir di USD 5.595,47 per troy ounce. Dalam setahun terakhir, pergerakan harga emas terbilang sangat lebar, berada di rentang USD 2.772,23 hingga USD 5.595,47 per troy ounce.
Meski tertekan dalam satu hari perdagangan, secara year to date (YTD) harga emas masih mencatat kenaikan 13,31 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa tren penguatan emas sejak awal tahun masih bertahan, meskipun tekanan jangka pendek meningkat signifikan.
Di sisi lain, dolar Amerika Serikat justru menguat tajam. Penguatan dolar dipicu oleh aksi jual pada mata uang berbasis komoditas, seperti dolar Australia dan krona Swedia. Kondisi tersebut menekan harga aset berdenominasi dolar, termasuk emas dan perak.
Selama sekitar satu tahun terakhir, minat investor terhadap logam mulia melonjak tajam. Permintaan yang kuat mendorong harga emas dan perak mencetak rekor demi rekor. Volatilitas semakin terasa pada Januari, ketika investor memburu aset aman di tengah kekhawatiran pelemahan mata uang, isu independensi Federal Reserve, perang dagang, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Namun, reli tersebut mendapat pukulan keras pada perdagangan Jumat. Aksi jual kali ini disebut sebagai yang terbesar, bahkan melampaui koreksi tajam yang terjadi pada Oktober lalu. Pemicu utamanya adalah penguatan dolar AS setelah muncul laporan, yang kemudian dikonfirmasi, bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump bersiap mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya.
Pasar menilai Warsh sebagai figur yang tegas terhadap inflasi. Persepsi tersebut mendorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, menopang dolar AS, dan pada saat yang sama menekan harga logam mulia.
"Pengumuman Trump bahwa Warsh adalah pilihannya untuk Ketua Fed berikutnya telah berdampak positif bagi dolar AS dan negatif bagi logam mulia," ujar Kepala Strategi Emas dan Logam Mulia State Street Investment Management, Aakash Doshi.
Ia menambahkan, tekanan tersebut kemungkinan diperparah oleh aksi penyeimbangan ulang portofolio di akhir bulan, mengingat posisi jual dolar dan posisi beli logam mulia telah menjadi konsensus perdagangan makro selama dua hingga tiga pekan terakhir.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!