Tarif Impor Indonesia Masih Mahal! Jepang & Eropa Dapat Diskon, RI Cuma Jadi Penonton?

Tarif Impor Indonesia Masih Mahal! Jepang & Eropa Dapat Diskon, RI Cuma Jadi Penonton?
- (Dok. ANTARA).

JAKATRA, GENVOICE.ID - Gen, tahu nggak sih? Jepang dan Uni Eropa udah lebih dulu dapat "harga teman" dari Amerika Serikat (AS) soal tarif impor, tapi Indonesia masih harus terus bolak-balik negosiasi. Sementara dua negara itu bisa menikmati tarif cuma 15 persen, Indonesia masih kejebak di angka 19 persen.

Dilansir dari ANTARA, masalah ini mencuat lagi saat Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, buka suara soal status negosiasi Indonesia dengan AS. Dalam acara Bisnis Indonesia Midyear Challenges 2025 di Jakarta, ia bilang kalau kesepakatan 19 persen yang sempat jadi angka terendah, sekarang udah kalah saing gara-gara Jepang dan Uni Eropa berhasil dapat tarif lebih rendah.

Tapi ternyata, diskon tarif itu nggak datang secara gratis. Jepang misalnya, harus beli produk-produk dari AS-termasuk alat militer-senilai 8 miliar dolar AS, dan juga wajib tanam investasi sebesar 550 miliar dolar AS. Uni Eropa juga nggak kalah besar bebannya, mereka harus membeli produk dari AS seharga 750 miliar dolar dan investasi 600 miliar dolar.

Susiwijono bilang, syarat buat Indonesia jauh lebih ringan dibanding dua negara tersebut. Meski udah ada kesepakatan tarif 19 persen, saat ini Indonesia masih nunggu sinyal resmi dari AS buat mulai diberlakukan. Faktanya, sampai sekarang tarif dasar ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam masih pakai angka 10 persen yang udah berlaku sejak April 2025.

Situasi makin menarik setelah Donald Trump, dalam pernyataannya, ngotot bakal mengenakan tarif antara 15-20 persen untuk negara-negara yang belum punya perjanjian dagang resmi. Indonesia tentu was-was, dan menurut Susiwijono, pihaknya bakal cari klarifikasi langsung ke United States Trade Representative (USTR).

"Masa yang lain enggak ngapa-ngapain, (dikenakan) rata-rata 15-20 persen. Enggak mungkin gitu. Jadi kejelasannya seperti apa, kita harus tanyakan ke USTR, termasuk kita pun negara-negara yang sudah sepakat," ujar Susiwijono.

Sebagai info tambahan, Gen, kesepakatan dagang RI-AS nggak cuma soal tarif. Ada juga komitmen pembelian dari Indonesia, mulai dari energi senilai 15 miliar dolar AS, produk pertanian 4,5 miliar dolar AS, investasi 10 miliar dolar AS, sampai pembelian 50 pesawat Boeing-mayoritas jenis Boeing 777.

Indonesia juga lagi nego buat turunin tarif komoditas unggulan yang AS butuh banget, tapi nggak bisa produksi sendiri. Contohnya kelapa sawit, kakao, kopi, dan berbagai produk agro lainnya yang jadi andalan ekspor kita.

Sayangnya, meski udah kasih banyak "timbal balik", tarif 19 persen masih belum dikunci resmi. Padahal Jepang dan Eropa udah duluan dapat potongan lebih murah. Jadi, Gen, kapan Indonesia bisa dapat harga spesial juga? Kita tunggu aja hasil negosiasi selanjutnya.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE