Viral Postingan Terakhir Raihan Mufazzar Sebelum Bacok Mahasiswi UIN Suska Riau, Lirik Lagu Korea Jadi Sorotan!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nama Raihan Mufazzar (21), mahasiswa UIN Suska Riau, mendadak menjadi perbincangan publik usai kasus pembacokan terhadap mahasiswi bernama Faradilla Ayu Pramesti (23).
Peristiwa itu terjadi pada Rabu (25/2/2026) sekitar pukul 07.30 WIB, jelang korban menjalani seminar proposal di kampusnya.
Di tengah ramainya pemberitaan, beredar di media sosial tangkapan layar yang diduga merupakan unggahan terakhir Raihan sebelum melakukan aksinya. Unggahan tersebut berisi cuplikan lirik lagu Korea Selatan berjudul Lily of the Valley dari Daniel.
Dalam postingan itu, tertulis potongan lirik berbahasa Inggris dan Korea, di antaranya:
"My love is a flower in your hands (Cintaku adalah bunga di tanganmu)
우리의 시간이야 (Ini adalah waktu kita)
I'll give you something (Aku akan memberimu sesuatu)
Unforgettable (Yang tak terlupakan)"
Lirik tersebut kemudian disebut-sebut sebagai pesan terselubung yang diduga ingin disampaikan kepada Fara, wanita yang disukainya.
Berdasarkan keterangan kepolisian, motif pelaku melakukan pembacokan diduga karena sakit hati setelah cintanya ditolak. Korban diketahui telah memiliki kekasih dan memilih mengakhiri kedekatan dengan pelaku.
Kapolsek Bina Widya, Nusirwan, menyampaikan bahwa pelaku merasa kecewa atas keputusan korban.
"Pelaku merasa sakit hati, karena korban mau memutuskan hubungan kedekatan karena sudah punya pacar," ujarnya.
Raihan disebut membawa kampak dan parang dari rumahnya di Bangkinang sebelum menuju kampus. Setibanya di lokasi, ia langsung menghampiri korban yang tengah bersiap mengikuti seminar proposal. Pelaku kemudian melakukan pembacokan di bagian kepala dan tangan korban.
Aksi tersebut segera diketahui mahasiswa lain dan civitas akademika kampus. Korban langsung dilarikan ke rumah sakit dan berhasil selamat.
Kasus ini memicu beragam spekulasi di media sosial. Sebagian warganet mengaitkan tindakan pelaku dengan kepribadian introvert atau penyendiri.
Seorang akun yang mengaku teman SMA pelaku menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kepribadian introvert dengan tindakan kekerasan seperti yang terjadi. Ia menyebut pelaku bukan sosok tertutup, melainkan pria pada umumnya.
Akun tersebut juga menilai tindakan pelaku lebih dipicu oleh obsesi terhadap korban. Ia menegaskan bahwa karakter introvert maupun ekstrovert tidak berkaitan langsung dengan aksi kriminal.
Sementara itu, pihak kepolisian menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku dikenal sebagai pribadi yang cenderung pendiam di lingkungan kampus. Namun, penyelidikan terkait kondisi psikologis pelaku masih terus didalami.
Kasus pembacokan ini kini ditangani aparat kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut. Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya pengendalian emosi dan penyelesaian persoalan pribadi tanpa kekerasan, terlebih di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi seluruh mahasiswa.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!