Paus Leo XIV kepada Influencer: 'Jangan Gunakan AI untuk Ego dan Polarisasi!'

Paus Leo XIV kepada Influencer: 'Jangan Gunakan AI untuk Ego dan Polarisasi!'
- (Dok. BBC International).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Dalam momen bersejarah, Paus Leo XIV memimpin Misa perdana khusus untuk para influencer Katolik di Basilika Santo Petrus, Vatikan, sebagai bagian dari Jubilee of Youth, pertemuan iman akbar yang digelar setiap 25 tahun sekali.

Namun bukan hanya soal ibadah dan komunitas, sang Paus menyampaikan pesan yang kuat tentang kemanusiaan dan tantangan kecerdasan buatan (AI) di era digital.

"Tidak ada satu pun hasil kreativitas manusia yang seharusnya digunakan untuk merendahkan martabat sesama," tegas Paus Leo dalam khotbahnya.

Dalam khotbahnya, Paus mengingatkan dunia bahwa teknologi, termasuk AI, harus dimanfaatkan untuk "kebaikan seluruh umat manusia", bukan untuk menciptakan polarisasi atau menyebarkan ketidakadilan.

Ia juga memperingatkan bahwa dunia saat ini tengah memasuki "era baru" yang menuntut manusia untuk melindungi kemampuan mendengarkan dan berbicara secara bermakna.

"Kita punya tugas untuk membangun cara berpikir dan bahasa baru di zaman ini,bahasa yang memberi suara pada cinta," ujarnya penuh makna.

Kepada para influencer media sosial yang hadir, Paus Leo XIV mengajak mereka untuk menggunakan platform digital sebagai sarana menjangkau yang menderita dan mencari pengharapan, sekaligus menentang budaya individualisme dan egosentrisme.

"Jadilah agen persekutuan, pemecah logika perpecahan dan polarisasi," katanya.

Sejak terpilih pada Mei 2025, Paus Leo XIV dikenal vokal mengenai isu-isu teknologi dan AI. Dalam pesan Angelus perdananya bulan Mei lalu, ia bahkan menegaskan bahwa Gereja tetap relevan dalam membela martabat manusia di tengah kemajuan teknologi.

Menariknya, Paus Leo XIV adalah Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat. Lahir di Chicago tahun 1955 dari keluarga keturunan Spanyol dan Franco-Italia, ia mempelajari matematika di Villanova University, Philadelphia pada 1977 sebelum ditahbiskan sebagai imam pada 1982.

Setelah sempat menetap di Peru, ia dikenal luas karena pengabdiannya kepada komunitas marjinal dan upayanya membangun jembatan antara budaya, negara, dan kelompok yang terpinggirkan.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE