Dua Pasutri di Solok Diduga Keracunan Gas CO, Ahli Ingatkan Deteksi Dini dan Pencegahan

Dua Pasutri di Solok Diduga Keracunan Gas CO, Ahli Ingatkan Deteksi Dini dan Pencegahan
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kasus kematian pasangan suami istri di Solok, Sumatera Barat yang diduga akibat keracunan gas karbon monoksida (CO) jadi peringatan bagi publik tentang bahaya gas yang tak kasat mata itu.

Prof. Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menekankan pentingnya edukasi dan deteksi dini untuk mencegah insiden serupa.

"Karbon monoksida adalah gas yang tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna. Justru karena sifatnya itu, masyarakat sering tidak menyadari keberadaannya hingga menimbulkan gangguan kesehatan serius," ujar Prof. Tjandra.

Ia menjelaskan bahwa CO mampu berikatan dengan hemoglobin ratusan kali lebih kuat dibandingkan oksigen, sehingga paparan gas ini menghentikan suplai oksigen ke organ vital dan bisa menyebabkan kerusakan organ hingga kematian.

Gejala keracunan CO bisa berupa sakit kepala, pusing, lemas, nyeri dada, atau mual. Pada paparan tinggi, kematian dapat terjadi sebelum gejala muncul. Untuk itu Prof. Tjandra mengingatkan langkah pencegahan sebagai prioritas, seperti memastikan tidak ada kebocoran pada peralatan berbahan bakar, tidak memanaskan kendaraan di garasi tertutup, serta mengenali tanda-tanda paparan. Ia juga mencontohkan bahwa di beberapa negara rumah dengan potensi risiko biasanya dilengkapi CO detector.

Dalam penanganan pertama, korban harus segera dipindahkan dari lokasi paparan untuk menghentikan terpapar gas lebih lanjut. Pemberian oksigen murni 100 persen menjadi tindakan penting untuk membantu menggantikan oksigen yang terhambat. Untuk kondisi yang berat atau jika korban tidak menunjukkan perbaikan, terapi oksigen hiperbarik dapat dipertimbangkan untuk mempercepat pemulihan fungsi pernapasan dan mencegah kerusakan organ vital.

Mengenai peristiwa di Solok, Prof. Tjandra menegaskan bahwa penyebab kematian harus dipastikan melalui analisa mendalam agar diketahui apakah benar karena keracunan karbon monoksida atau sebab lain.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE