Malah Jadi Korban! Gubernur Banten Menonaktifkan Kepala Sekolah yang Memukul Murid karena Merokok
JAKARTA, GENVOICE.ID - Setelah sempat melancarkan aksi mogok belajar selama dua hari, sebanyak 630 siswa SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, akhirnya kembali ke sekolah.
Keputusan siswa untuk kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar datang setelah kepala sekolah mereka, Dini Fitria, resmi dinonaktifkan dari jabatannya.
Wakil Kepala SMAN 1 Cimarga, Emi Sumiati, membenarkan bahwa seluruh siswa telah hadir kembali di sekolah per Rabu (15/10/2025). Ia menyebut kondisi saat ini sudah kembali normal dan proses pembelajaran berlangsung kondusif.
"Terkait anak, alhamdulillah anak-anak sudah kembali lagi bersekolah," ujar Emi saat dikonfirmasi. Ia menjelaskan bahwa selama dua hari mogok, para guru tetap berupaya memberikan materi melalui pembelajaran daring agar siswa tetap terlayani secara akademik. "Kami sebagai guru sudah berupaya dengan belajar online. Alhamdulillah sekarang anak-anak sudah bersekolah," tambahnya.
Emi juga memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar (KBM) kembali berjalan sesuai jadwal dan tidak ada gangguan dalam pelaksanaan kurikulum. Ketika ditanya mengenai status Dini Fitria, ia hanya memberikan pernyataan singkat bahwa Dini telah digantikan.
"Sudah ada penggantinya," katanya.
Sebelumnya, aksi mogok besar-besaran dilakukan ratusan siswa sebagai bentuk protes terhadap Dini Fitria, yang diduga menampar salah satu siswa karena ketahuan merokok di area sekolah.
Peristiwa itu terjadi saat kegiatan Jumat Bersih digelar di sekolah pada 10 Oktober 2025. Saat itu, Dini memergoki siswa berinisial ILP sedang merokok di area kantin, namun yang bersangkutan menyangkal. Emosi karena merasa dibohongi, Dini secara spontan menegur keras siswa tersebut dan mengaku sempat melakukan kontak fisik.
"Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi. Tapi saya tegaskan, tidak ada pemukulan keras," jelas Dini.
Dini menyebut bahwa yang membuatnya benar-benar marah bukan karena tindakan merokok semata, tetapi karena ILP tidak jujur saat ditegur. Ia mengaku kecewa karena upaya pembentukan karakter siswa yang ia jalankan melalui program Jumat Bersih seolah tidak membuahkan hasil.
Kisruh ini pun akhirnya merambah ke ranah hukum setelah orang tua ILP, Tri Indah Alesti, melaporkan Dini ke polisi. Sementara itu, dari sisi administratif, Dini telah dinonaktifkan dari jabatannya oleh Pemerintah Provinsi Banten.
Kini, setelah penonaktifan kepala sekolah dan berjalannya kembali kegiatan belajar, pihak sekolah berharap situasi bisa kembali stabil dan seluruh pihak dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!