Seperempat Spesies Air Tawar Menghadapi Kepunahan, Menurut Penelitian
GENVOICE.ID - Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan pada rabu (8/1) di Paris hampir seperempat hewan air tawar, termasuk ikan, serangga, dan krustasea, berada berisiko tinggi mengalami kepunahan akibat ancaman polusi, bendungan, dan aktivitas pertanian.
Air tawar termasuk sungai, akuifer, danau, dan lahan basah hanya mencakup kurang dari satu persen dari permukaan Bumi tetapi menjadi habitat lebih dari 10 persen spesies yang ada, termasuk setengah dari populasi ikan dan sepertiga vertebrata.
Keanekaragaman hayati ini mendukung mata pencaharian miliaran orang dan menjadi pelindung terhadap perubahan iklim, tetapi saat ini berada dalam tekanan besar, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal akademik Nature.
Dilasir dari AFP penilaian terbaru terhadap lebih dari 23.000 spesies air tawar menemukan bahwa 24 persen dari keseluruhan spesies terancam punah, dengan variasi di antara kelompok yang dipelajari. Sekitar 30 persen dekapoda seperti udang, kepiting, dan lobster air tawar lebih berisiko, dibandingkan dengan 26 persen ikan, 23 persen tetrapoda termasuk katak dan reptil, serta 16 persen odonata seperti capung.
Sejak tahun 1500, sekitar 89 spesies air tawar dilaporkan punah, sementara 178 lainnya diduga mengalami nasib yang sama. Penulis penelitian menyatakan angka ini kemungkinan besar lebih rendah dari kenyataan karena kurangnya data tentang beberapa spesies.
Penelitian tersebut menekankan perlunya tindakan cepat untuk mengatasi ancaman dan mencegah penurunan dan hilangnya spesies lebih lanjut. Polusi, bendungan, ekstraksi air, perubahan penggunaan lahan dan aktivitas pertanian, spesies invasif dan penyakit, perubahan iklim, serta cuaca ekstrem merupakan ancaman utama bagi spesies air tawar.
Penurunan sumber daya air tawar sering kali terjadi tanpa terlihat dan kurang diperhatikan, meskipun habitat ini penting bagi kehidupan dan pengatur iklim. Antara tahun 1970 dan 2015, sekitar 35 persen lahan basah seperti rawa dan kolam telah hilang tiga kali lebih cepat dibandingkan deforestasi.
Studi ini juga mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga sungai yang panjangnya lebih dari 1.000 kilometer tidak lagi mengalir bebas di sepanjang aliran nya. Hingga saat ini, perhatian terhadap lingkungan air tawar belum setara dengan ekosistem darat dan laut dalam tata kelola lingkungan global.
0 Comments





- Oscar 2025: ‘Anora,’ ‘Conclave’ Menangkan Skenario Terbaik
- Lirik Lagu Sukatani - Bayar Bayar Bayar
- Ingin Jadi Pengusaha Muda? Ini Tips Wirausaha untuk Gen Z!
- Jelang Pertandingan Epic, Timnas Indonesia U-20 Siap Buktikan Diri Lawan Iran!
- Mengapa Gen Z Berani Jadi Entrepreneur di Usia Muda? Temukan Alasannya!
- Drama Baru! Suami Sandra Dewi, Harvey Moeis, Dihukum 20 Tahun, Ini Alasannya!
- Airwalk dan Bash Skatepark Satukan Pecinta Skateboard dalam Acara Bersejarah
- TikTok Terancam Tutup, RedNote Siap Ambil Alih Pengguna di AS
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!