AI Tingkatkan Efisiensi Dokter, Kurangi Burnout dan Percepat Pelayanan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dokter di John Muir Health kini memiliki lebih banyak waktu untuk pasien setiap minggunya berkat penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi dalam sistem rekam medis elektronik (EHR) Epic. Data terbaru menunjukkan bahwa AI telah mengurangi waktu yang dihabiskan dokter untuk mencatat informasi klinis setelah jam kerja, menurut Ambience, mitra AI John Muir Health dalam dokumentasi klinis dan koordinasi perawatan.
Dilansir dari Health Care It News, sejak penerapan teknologi AI berbasis Epic di berbagai fasilitas John Muir Health (JMH), lebih dari 65% klinisi dari 15 spesialisasi telah memanfaatkan platform ini dalam setiap interaksi dengan pasien. Hasilnya, JMH mencatat penghematan biaya sebesar 3 juta dolar AS, yang dikaitkan langsung dengan penurunan 44% tingkat pergantian dokter di layanan perawatan primer.
Menurut Dr. Priti Patel, Chief Medical Information Officer JMH, AI ini berdampak besar dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Data menunjukkan bahwa persepsi burnout dokter menurun sebesar 11%, sementara 86% dokter merasa lebih efisien dengan sistem ini. Selain itu, waktu yang dihabiskan dokter untuk mencatat catatan pasien dan instruksi berkurang 24%, sedangkan pencatatan setelah jam kerja ("pajama time") menurun 18%, memberikan tambahan 40 menit per hari bagi dokter untuk fokus pada pasien mereka.
"Teknologi ini adalah yang paling transformatif yang pernah saya lihat dalam dunia kesehatan. Pasien mendapatkan lebih banyak waktu dan interaksi mendalam dengan dokter mereka. Dokter pun bisa fokus sepenuhnya pada pasien tanpa harus multitasking selama konsultasi, serta dapat pulang tepat waktu." kata Dr. Patel.
Dalam perkembangan lain, perusahaan AI Vantiq mengumumkan kemitraan dengan firma layanan profesional Huron untuk mengembangkan AI otonom guna mentransformasi operasional rumah sakit.
Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan pusat kendali kesehatan yang lebih cerdas dengan memanfaatkan analisis prediktif dan alat komunikasi canggih. Teknologi ini diharapkan dapat membantu rumah sakit dalam mengelola operasi kritis secara real-time, termasuk memperkirakan kebutuhan tempat tidur ICU dan pemeliharaan peralatan untuk mencegah penundaan yang mahal.
"Di dunia kesehatan, setiap detik sangat berharga. Kami ingin pusat kendali rumah sakit dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan yang paling canggih agar tim medis dapat mengantisipasi dan mencegah masalah sebelum terjadi," ujar Marty Sprinzen, Co-founder dan CEO Vantiq.
Sementara itu, AdvancedMD, yang baru saja kembali ke portofolio teknologi Francisco Partners pada Oktober lalu, meluncurkan lebih dari 20 pembaruan produk dalam rilis musim dingin mereka.
Pembaruan ini mencakup peningkatan tampilan informasi pasien dalam sistem manajemen praktik, memungkinkan tenaga medis untuk melihat data pasien secara lebih komprehensif. Selain itu, perusahaan juga mengintegrasikan fitur laporan kesehatan populasi untuk mendukung program perawatan berbasis nilai.
"Kami juga telah menyederhanakan alur kerja dengan fitur EHR baru, termasuk template perawatan pediatri, peningkatan visibilitas anotasi dalam rekam medis, serta tautan otomatis ke pesanan laboratorium terkait," kata Tim Costantino, Wakil Presiden dan Kepala Produk AdvancedMD.
0 Comments





- Ini Cara Menonton Duel Panas Liverpool vs PSG!
- Neymar Cedera! Absen dari Kualifikasi Piala Dunia untuk Perjuangkan Brazil
- H-1 Lebaran: Sudah Ada 3.471 Pemudik Tinggalkan Jakarta via Bandara Halim Perdanakusuma
- Komedian Palestina Ini Merasa Bangga sekaligus Sedih setelah Menjadi Populer dalam Serial Netflix
- Piastri Menangi GP China, Posisi Lawson Terancam?
- Perjalanan George Foreman: Dari Medali Emas Olimpiade hingga Juara Tertua Kelas Berat
- Kota-Kota di Eropa yang Wajib Masuk Daftar Destinasi Digital Nomad Terpopuler 2025
- Selena Gomez dan Benny Blanco Rilis Lagu Baru dengan Video Musik yang Unik
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!