9 Kebakaran Terbesar dalam Sejarah Indonesia, Ada yang Hanguskan Jutaan Hektare Hutan

Dari Bandung Lautan Api hingga karhutla yang melanda Sumatra dan Kalimantan, sederet kebakaran besar pernah meninggalkan kerugian dan korban dalam jumlah besar.

9 Kebakaran Terbesar dalam Sejarah Indonesia, Ada yang Hanguskan Jutaan Hektare Hutan
Kebakaran Terbesar dalam Sejarah Indonesia. - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kebakaran menjadi salah satu bencana yang berulang kali terjadi di Indonesia, baik akibat faktor alam maupun aktivitas manusia. Saat musim kemarau, kondisi panas dan kering dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama di kawasan hutan, lahan gambut, hingga padang savana.

Sejumlah peristiwa bahkan berkembang menjadi bencana besar dengan dampak yang luas, mulai dari kerusakan lingkungan hingga korban jiwa dan kerugian ekonomi. Beberapa kebakaran juga terjadi di kawasan permukiman dan fasilitas umum sehingga dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dalam catatan sejarah, Indonesia pernah mengalami kebakaran yang menghanguskan jutaan hektare hutan dan lahan. Berikut sembilan peristiwa kebakaran besar yang memiliki dampak signifikan di berbagai wilayah Indonesia.

1. Bandung Lautan Api, 1946

Bandung Lautan Api menjadi salah satu peristiwa kebakaran paling dikenal dalam sejarah Indonesia dan terjadi pada malam 23 Maret 1946 di Bandung, Jawa Barat. Saat itu, sekitar 200.000 warga membakar rumah mereka dan meninggalkan wilayah Bandung menuju daerah pegunungan.

Tindakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi perjuangan untuk mencegah tentara Sekutu memanfaatkan Bandung sebagai pusat kekuatan militer. Peristiwa tersebut kemudian menjadi simbol perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Istilah Bandung Lautan Api sendiri muncul setelah wartawan muda Ace Bastaman menyaksikan kondisi Kota Bandung yang tampak memerah seperti lautan api dari kawasan perbukitan. Peristiwa tersebut juga kemudian dikaitkan dengan semangat perjuangan yang tergambar dalam lagu "Halo, Halo Bandung".

2. Kebakaran Hutan Kalimantan Timur, 1982-1983

Kebakaran hutan yang melanda Kalimantan Timur pada 1982-1983 tercatat sebagai salah satu karhutla paling parah pada periode tersebut. Kebakaran diperkirakan menghanguskan lebih dari 3,2 juta hektare kawasan hutan, termasuk sebagian besar hutan hujan primer.

Kerusakan tersebut berdampak terhadap ekosistem dan habitat berbagai jenis flora serta fauna, termasuk orangutan Kalimantan dan bekantan. Kerugian ekonomi akibat kebakaran pada masa itu juga diperkirakan mencapai lebih dari Rp6 triliun.

Kemarau panjang dan ekstrem menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi kebakaran. Situasi tersebut semakin sulit dikendalikan karena adanya aktivitas pembalakan liar yang meninggalkan material kayu mudah terbakar serta pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran.

3. Karhutla Sumatra, Kalimantan, dan Riau, 1997-1998

Indonesia kembali menghadapi kebakaran hutan dan lahan berskala besar pada 1997-1998. Rangkaian kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Riau diperkirakan menghanguskan lebih dari 9 juta hektare hutan dan lahan.

Kondisi tersebut diperburuk oleh kemarau ekstrem serta aktivitas manusia dalam pembukaan lahan. Kabut asap yang dihasilkan bahkan menyebar hingga Malaysia dan Singapura sehingga peristiwa tersebut turut menjadi persoalan lintas negara.

Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga gangguan kesehatan dan aktivitas masyarakat. Data yang dikutip dalam laporan tersebut menyebut sekitar 240 orang meninggal dunia, sementara sekitar 100.000 orang mengalami gangguan pernapasan dan lebih dari 200.000 warga harus mengungsi.

4. Pembakaran Plaza Sentral Klender, 1998

Di luar kebakaran hutan dan lahan, salah satu peristiwa kebakaran paling tragis terjadi saat kerusuhan Mei 1998. Pembakaran Plaza Sentral Klender atau Mal Yogya di Jakarta Timur pada 15 Mei 1998 menyebabkan banyak korban jiwa.

Peristiwa tersebut bermula dari aksi penjarahan yang kemudian berkembang menjadi kebakaran besar di dalam pusat perbelanjaan. Api yang dengan cepat membesar membuat banyak orang terjebak di dalam bangunan dan sebagian korban berusaha menyelamatkan diri dengan melompat dari gedung.

Penyebab serta pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran tersebut menjadi bagian dari persoalan yang hingga kini kerap dibahas dalam catatan sejarah. Tim Gabungan Pencari Fakta atau TGPF memperkirakan jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi tersebut mencapai 488 orang.

5. Kebakaran Hutan Sumatra dan Kalimantan, 2015

Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi bencana lingkungan berskala besar pada 2015. Luas wilayah yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 2,6 juta hektare dan menyebabkan kabut asap tebal menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra serta Kalimantan selama berbulan-bulan.

Fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang menjadi salah satu faktor yang memperparah kebakaran. Di kawasan gambut, api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit.

Dampaknya turut dirasakan berbagai sektor, mulai dari kesehatan, transportasi hingga kegiatan ekonomi masyarakat. Kerugian ekonomi akibat bencana tersebut ditaksir mencapai lebih dari Rp220 triliun.

6. Kebakaran Pulau Komodo, 2018

Kebakaran juga pernah melanda kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Gili Lawa Darat pada 1 Agustus 2018. Sekitar 10 hektare padang rumput dilaporkan hangus akibat kebakaran tersebut.

Peristiwa itu diduga dipicu oleh puntung rokok yang dibuang pengunjung di kawasan puncak Gili Lawa Darat. Meskipun luas wilayah yang terbakar tidak sebesar sejumlah kasus karhutla lainnya, kejadian tersebut mendapat perhatian karena kawasan savana merupakan salah satu daya tarik wisata Pulau Komodo.

Akibat kebakaran, kawasan padang savana yang dikenal dengan lanskap khasnya harus ditutup sementara. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga kawasan konservasi dari aktivitas manusia yang berpotensi memicu kebakaran.

7. Kebakaran Kawah Wurung Ijen, 2023

Pada 30 Agustus 2023, kebakaran melanda kawasan wisata Kawah Wurung di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 20 hektare.

Upaya pemadaman dilakukan oleh tim gabungan dan berlangsung selama kurang lebih 15 jam hingga api berhasil dikendalikan. Dugaan sementara pada saat itu menyebut faktor manusia sebagai penyebab kebakaran.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kawasan wisata dengan vegetasi kering juga memiliki risiko kebakaran, khususnya ketika memasuki musim kemarau. Pengawasan terhadap aktivitas pengunjung menjadi salah satu hal penting untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

8. Kebakaran Gunung Bromo, 2023

Kebakaran besar juga melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada 6 September 2023. Api membakar kawasan savana dan perbukitan dengan luas lebih dari 500 hektare setelah penggunaan flare untuk kebutuhan foto prewedding memicu kebakaran.

Percikan api dari flare mengenai rerumputan yang berada dalam kondisi kering sehingga api dengan cepat menyebar. Kejadian tersebut mendapat sorotan luas karena aktivitas wisata menjadi faktor pemicu kebakaran di kawasan konservasi.

Proses pemadaman berlangsung selama beberapa hari hingga api dinyatakan padam sepenuhnya pada 14 September 2023. Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp5,4 miliar dan aktivitas wisata di kawasan terdampak turut terganggu.

9. Kebakaran Depo Plumpang, 2023

Kebakaran di Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara, pada 3 Maret 2023 menjadi salah satu insiden kebakaran industri dengan dampak besar terhadap masyarakat. Lokasi fasilitas yang berdekatan dengan kawasan permukiman membuat api dengan cepat merambat ke rumah-rumah warga.

Peristiwa tersebut menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan mengalami luka-luka. Ratusan warga juga kehilangan tempat tinggal sehingga harus mengungsi setelah kawasan permukiman terdampak kebakaran.

Tragedi tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat di sekitar lokasi kejadian. Risiko kebakaran di kawasan industri dan permukiman padat pun kembali menjadi perhatian, terutama terkait aspek keselamatan dan mitigasi bencana.

Pelajaran dari Berbagai Kebakaran Besar

Berbagai peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran di Indonesia memiliki karakter dan penyebab yang beragam. Ada kebakaran yang berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem dan kekeringan, tetapi tidak sedikit pula yang dipicu oleh aktivitas manusia.

Besarnya dampak kebakaran juga tidak hanya dapat diukur dari luas area yang terbakar. Korban jiwa, gangguan kesehatan, kerusakan ekosistem, kerugian ekonomi, hingga terganggunya aktivitas masyarakat menjadi bagian dari dampak yang perlu diperhitungkan.

Karena itu, pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan memasuki periode kering. Kesadaran masyarakat, pengawasan kawasan rawan, serta respons cepat ketika muncul tanda-tanda kebakaran dapat membantu mencegah api berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE