Daftar Banjir Paling Mematikan dalam Sejarah, Korbannya Capai Jutaan Jiwa
JAKARTA, GENVOICE.ID - Banjir menjadi salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah manusia. Selain dapat menghancurkan permukiman dan lahan pertanian dalam waktu singkat, banjir juga kerap diikuti kelaparan, penyakit, dan gangguan akses terhadap kebutuhan dasar yang meningkatkan jumlah korban.
Sejumlah banjir terbesar dalam sejarah terjadi sebelum sistem peringatan dini dan infrastruktur pengendalian banjir berkembang seperti sekarang. Akibatnya, jumlah korban jiwa dari beberapa bencana mencapai ratusan ribu bahkan jutaan orang.
Berikut sejumlah banjir paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah berdasarkan estimasi jumlah korban jiwa.
Banjir Sungai Kuning 1887
Banjir Sungai Kuning atau Yellow River Flood yang terjadi di China pada 1887 merupakan salah satu bencana banjir paling mematikan yang pernah tercatat. Jumlah korban diperkirakan mencapai sedikitnya 930.000 orang, sementara sejumlah estimasi menempatkan angka kematian hingga sekitar 2 juta jiwa.
Banjir terjadi setelah hujan deras membuat Sungai Kuning meluap dan tanggul yang dibangun untuk menahan aliran sungai tidak mampu menahan tekanan air. Air kemudian menyebar ke wilayah dataran rendah yang luas dan menghancurkan banyak permukiman serta lahan pertanian.
Dampak bencana tidak berhenti setelah air surut. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan kekurangan kebutuhan dasar, sementara penyakit serta kelaparan turut menyebabkan korban jiwa.
Banjir China 1931
Banjir besar yang melanda China pada 1931 sering disebut sebagai salah satu, bahkan dalam sejumlah catatan sebagai bencana banjir paling mematikan dalam sejarah. Perkiraan korban sangat bervariasi, mulai dari sekitar 422.000 hingga beberapa juta orang. Sejumlah sumber memperkirakan jumlah korban dapat mencapai 4 juta jiwa jika kematian akibat kelaparan dan penyakit setelah banjir turut dihitung.
Bencana tersebut melibatkan sejumlah sungai besar, termasuk Yangtze dan Sungai Kuning. Hujan ekstrem membuat wilayah yang sangat luas terendam. Pada saat itu, pemerintah memperkirakan sekitar 25 juta orang terdampak, sedangkan sejumlah penelitian kemudian memperkirakan jumlahnya bisa mencapai sekitar 53 juta orang.
Skala bencana diperparah oleh kerentanan masyarakat terhadap wabah penyakit dan kekurangan pangan. Kondisi tersebut membuat angka kematian sulit dihitung secara pasti.
Banjir Sungai Kuning 1938
Banjir besar lainnya terjadi di Sungai Kuning pada 1938. Bencana ini berbeda dari banyak banjir alam lainnya karena dipicu oleh tindakan manusia dalam konteks perang.
Tanggul Sungai Kuning sengaja dihancurkan untuk menghambat pergerakan pasukan Jepang dalam Perang China-Jepang Kedua. Air kemudian menggenangi wilayah yang luas dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Estimasi korban akibat peristiwa tersebut berada di kisaran ratusan ribu jiwa. Daftar banjir paling mematikan menempatkan jumlah korban sekitar 470.000 hingga 500.000 orang.
Banjir Yangtze 1935
Sungai Yangtze kembali menjadi sumber bencana besar pada 1935. Banjir yang melanda sejumlah wilayah China tersebut diperkirakan menewaskan sekitar 145.000 orang.
Seperti sejumlah bencana banjir besar lainnya pada masa itu, korban tidak hanya disebabkan oleh air yang menggenangi permukiman. Kerusakan pertanian dan infrastruktur turut memperburuk kondisi masyarakat setelah bencana.
Kegagalan Bendungan Banqiao 1975
Salah satu bencana banjir paling terkenal pada era modern terjadi setelah Bendungan Banqiao di China mengalami kegagalan pada 1975. Hujan ekstrem akibat Topan Nina menyebabkan bendungan dan sejumlah bendungan lainnya di kawasan tersebut mengalami kerusakan.
Banjir yang terjadi kemudian menewaskan sekitar 26.000 orang secara langsung menurut sejumlah perkiraan. Jika korban akibat wabah penyakit dan kelaparan setelah bencana turut diperhitungkan, estimasi keseluruhan dapat mencapai sekitar 240.000 orang.
Bencana Banqiao menjadi salah satu contoh paling ekstrem mengenai dampak kegagalan infrastruktur pengendali air ketika berhadapan dengan curah hujan yang sangat tinggi.
Banjir akibat Siklon Bhola 1970
Bencana besar lainnya terjadi pada 1970 ketika Siklon Bhola menerjang wilayah yang saat itu dikenal sebagai Pakistan Timur, yang kini merupakan Bangladesh.
Selain angin kencang, siklon tersebut membawa gelombang badai yang menyebabkan banjir besar di wilayah pesisir. Jumlah korban diperkirakan mencapai sekitar 300.000 hingga 500.000 orang.
Besarnya korban dipengaruhi oleh karakteristik wilayah pesisir yang rendah serta tingginya paparan masyarakat terhadap gelombang badai.
Banjir St. Felix 1530
Jauh sebelum era modern, wilayah pesisir Eropa juga mengalami sejumlah banjir besar yang mematikan. Salah satunya adalah Banjir St. Felix yang terjadi pada 1530 dan melanda kawasan yang kini menjadi bagian dari Belanda.
Banjir akibat gelombang badai tersebut diperkirakan menewaskan lebih dari 100.000 orang. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana banjir pesisir paling mematikan dalam catatan sejarah Eropa.
Banjir Laut Utara 1212
Pada 1212, wilayah sekitar Laut Utara juga dilanda banjir besar akibat gelombang badai. Estimasi korban mencapai sekitar 60.000 orang, meski catatan sejarah mengenai jumlah korban memiliki ketidakpastian.
Banjir tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Eropa telah menghadapi ancaman banjir besar selama berabad-abad sebelum sistem perlindungan pantai modern berkembang.
Mengapa Korban Banjir Masa Lalu Sangat Tinggi?
Besarnya korban pada sejumlah bencana banjir bersejarah tidak hanya disebabkan oleh volume air. Pada masa lalu, masyarakat belum memiliki sistem peringatan dini, pemantauan cuaca, infrastruktur pengendalian banjir, maupun layanan penyelamatan seperti sekarang.
Selain itu, banjir dapat memicu dampak lanjutan. Ketika sawah dan sumber makanan rusak, masyarakat menghadapi risiko kelaparan. Air yang tercemar juga dapat meningkatkan penyebaran penyakit, terutama ketika fasilitas kesehatan dan sanitasi ikut mengalami kerusakan.
Karena itu, angka kematian dalam bencana banjir bersejarah sering kali mencakup korban yang meninggal beberapa waktu setelah air surut. Perbedaan metode pencatatan tersebut juga menjadi alasan mengapa jumlah korban untuk beberapa bencana lama memiliki rentang estimasi yang sangat besar.
Dengan catatan sejarah yang tersedia, China mendominasi daftar banjir paling mematikan. Banjir Sungai Kuning pada 1887 dan banjir besar China pada 1931 menjadi dua peristiwa dengan estimasi korban yang dapat mencapai jutaan jiwa, menjadikannya bagian dari bencana alam dengan jumlah korban terbesar dalam sejarah manusia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!