Siapa Pengganti Ali Khamenei? 4 Nama Ini Disebut Paling Berpeluang Pimpin Iran Usai Serangan AS-Israel

Siapa Pengganti Ali Khamenei? 4 Nama Ini Disebut Paling Berpeluang Pimpin Iran Usai Serangan AS-Israel
Hassan Khomeini - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi.

Publik mulai dihebohkan dengan pertanyaan tentang siapa yang akan memimpin Iran selanjutnya.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta media pemerintah Iran mengonfirmasi kabar kematian Khamenei pada Minggu (1/3/2026). Iran pun menetapkan 40 hari masa berkabung nasional dan tujuh hari libur resmi untuk menghormati sosok yang memimpin negara itu sejak 1989.

Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menyebut Khamenei sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah" dan menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan dengan koordinasi erat bersama Israel. Ketika ditanya siapa yang berpotensi menggantikan Khamenei, Trump mengaku sudah mengetahui sosoknya, namun enggan mengungkapkan nama. Ia hanya menyebut ada "beberapa kandidat yang baik".

Mekanisme Suksesi di Iran

Menurut laporan The New York Times, pemimpin tertinggi Iran harus merupakan ulama dan cendekiawan Syiah senior yang dipilih oleh lembaga bernama Majelis Pakar-sebuah komite ulama yang memiliki kewenangan menentukan dan mengawasi Pemimpin Tertinggi.

Saat konflik 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni tahun lalu, Khamenei sempat menyebut tiga kandidat yang bisa segera diangkat jika sesuatu terjadi padanya. Kini, setidaknya ada empat nama yang dinilai paling berpeluang.

1. Alireza Arafi

Ulama berusia 67 tahun ini dikenal sebagai rekan dekat Khamenei. Saat ini ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar. Ia juga pernah duduk di Dewan Wali, lembaga berpengaruh yang menyaring kandidat pemilu dan meninjau undang-undang parlemen. Arafi memimpin sistem seminari Iran dan memiliki reputasi religius kuat, meski tidak dikenal sebagai kekuatan politik dominan maupun figur yang dekat dengan lembaga keamanan.

2. Mohammad Mehdi Mirbagheri

Mirbagheri merupakan ulama garis keras berusia 60-an dan anggota Majelis Pakar. Ia mewakili faksi paling konservatif di kalangan ulama Iran. Menurut laporan IranWire, Mirbagheri sangat menentang Barat dan memandang konflik ideologis dengan dunia non-Muslim sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Saat ini ia memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di Qom.

3. Hassan Khomeini

Ia adalah cucu dari pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini. Berusia 50-an, Hassan memiliki legitimasi religius dan simbolis karena garis keturunannya. Ia bertugas sebagai penjaga mausoleum Khomeini dan dikenal lebih moderat dibanding banyak ulama lain. Meski pernah disebut sebagai calon penerus oleh Khamenei, pengaruhnya di lingkaran elite keamanan dinilai terbatas.

4. Hashem Hosseini Bushehri

Ulama senior berusia 60-an ini memiliki koneksi kuat dengan lembaga-lembaga kunci dalam proses suksesi, terutama Majelis Pakar, di mana ia menjabat sebagai wakil ketua pertama. Ia dikenal dekat dengan Khamenei dan menjaga profil rendah. Namun, ia juga tidak diketahui memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam.

Nama lain yang sempat disebut adalah Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei. Namun peluangnya dinilai tipis, apalagi Khamenei sebelumnya pernah menegaskan tidak ingin jabatan Pemimpin Tertinggi diwariskan secara turun-temurun.

Kini, keputusan berada di tangan Majelis Pakar. Dunia menanti apakah Iran akan memilih figur garis keras untuk mempertahankan arah konfrontatifnya, atau sosok yang lebih moderat di tengah dinamika geopolitik yang memanas.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE