Mengapa Ali Khamenei Selalu Diburu Israel dan AS? Ini Alasannya!

Mengapa Ali Khamenei Selalu Diburu Israel dan AS? Ini Alasannya!
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Nama Ali Khamenei kembali menjadi sorotan dunia setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Sejumlah media Israel sempat melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran itu tewas, meski pada fase awal belum ada konfirmasi resmi terkait kondisinya.

Media Israel seperti Walla! dan Channel 12 menyebut Khamenei terputus dari komunikasi setelah serangan terjadi. Bahkan, keyakinan di kalangan pejabat Israel bahwa ia tewas atau setidaknya mengalami luka serius disebut semakin menguat. Namun, baik Israel maupun Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi saat laporan awal itu beredar.

Siapa Ali Khamenei?

Bernama lengkap Sayyid Ali Hosseini Khamenei, ia lahir di Mashhad pada 1939. Ia menjadi Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini.

Dalam struktur politik Iran, posisi Pemimpin Tertinggi berada di atas presiden. Ia bukan hanya pemimpin agama tertinggi dalam hierarki Syiah, tetapi juga pemegang kendali politik dan militer. Kewenangannya mencakup penunjukan komandan angkatan bersenjata, kepala lembaga kehakiman, pimpinan media nasional, hingga anggota Dewan Wali.

Khamenei sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Presiden Iran pada dekade 1980-an. Namun sejak terpilih oleh Majelis Pakar pada 1989, kekuasaannya meluas jauh melampaui jabatan presiden.

Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi

Presiden Iran dipilih langsung oleh rakyat dan bertindak sebagai kepala eksekutif. Ia bertanggung jawab atas kabinet, hubungan diplomatik, dan administrasi pemerintahan sehari-hari.

Sebaliknya, Pemimpin Tertinggi dipilih oleh Majelis Pakar dan memiliki otoritas tertinggi negara. Ia dapat menentukan kebijakan umum, mengawasi jalannya sistem, memegang komando tertinggi militer, hingga memiliki kewenangan dalam urusan perang dan perdamaian. Bahkan, bersama dukungan parlemen, Pemimpin Tertinggi dapat memakzulkan presiden.

Kebijakan dan Kontroversi

Sepanjang kepemimpinannya, Khamenei mengeluarkan sejumlah fatwa penting. Pada 1996, ia pernah menyatakan pendidikan musik bagi anak di bawah 16 tahun di fasilitas publik sebagai sesuatu yang menyesatkan. Namun pada 1999, ia juga mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan donor gamet pihak ketiga bagi pasangan infertil-sebuah langkah yang dinilai progresif dalam konteks hukum Islam.

Di dalam negeri, namanya kerap muncul dalam gelombang protes yang awalnya dipicu isu ekonomi, lalu berkembang menjadi kritik terhadap sistem pemerintahan.

Mengapa Ia Selalu Jadi Target?

Sepanjang era kepemimpinannya, Iran terlibat dalam berbagai konflik geopolitik besar. Dalam Perang Irak, Perang Suriah, konflik Yaman, hingga perang bayangan melawan Israel, posisi Iran hampir selalu berada di pusat ketegangan kawasan.

Iran mendukung kelompok seperti Hezbollah di Lebanon dan berbagai milisi Syiah di Irak serta Suriah. Ketegangan dengan Israel berlangsung lama melalui operasi siber, serangan udara di Suriah, hingga konflik terbuka yang memuncak pada 2025.

Dalam konflik terbaru, Amerika Serikat dilaporkan ikut turun langsung menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Hal ini membuat posisi Khamenei sebagai simbol sekaligus pusat kendali kebijakan strategis Iran menjadi target utama dalam setiap eskalasi.

Dengan kekuasaan yang begitu dominan-baik secara konstitusional maupun praktik politik-Khamenei bukan sekadar pemimpin negara, melainkan poros utama arah ideologis dan militer Iran. Itulah sebabnya, setiap kali konflik memanas, namanya selalu menjadi sorotan dan disebut sebagai figur kunci yang diburu oleh lawan-lawannya.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE