Awas Hujan Es! BMKG DIY Imbau Waspada Cuaca Ekstrem Selama Peralihan Musim

Awas Hujan Es! BMKG DIY Imbau Waspada Cuaca Ekstrem Selama Peralihan Musim
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim dari kemarau ke musim hujan yang diperkirakan terjadi pada periode September hingga Oktober 2025.

Dilansir dariAntara, Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, menyatakan bahwa masyarakat perlu bersiap menghadapi sejumlah fenomena cuaca berisiko tinggi seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan bahkan hujan es yang mungkin terjadi secara tiba-tiba selama masa transisi ini.

BMKG memperkirakan awal musim hujan di wilayah DIY akan dimulai antara Dasarian I hingga Dasarian III Oktober 2025, atau lebih awal satu dasarian dibandingkan kondisi normalnya. Kendati demikian, secara umum sifat hujan selama musim ini diprediksi berada pada kategori normal, dengan puncak musim hujan terjadi pada Januari hingga Februari 2026.

Total curah hujan sepanjang musim ini diperkirakan berkisar antara 1.001 hingga lebih dari 3.000 milimeter, tergantung lokasi dan intensitas sistem cuaca yang berkembang.

Pada Oktober 2025, curah hujan diprediksi berada pada kisaran 151 hingga 500 milimeter per bulan, dengan sifat hujan di atas normal. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat pada November, yang diprakirakan mencapai lebih dari 500 milimeter, juga dengan kecenderungan sifat hujan di atas normal.

Sementara itu, curah hujan pada Desember 2025 diperkirakan akan berkisar antara 201 hingga 500 milimeter per bulan, dengan sifat hujan yang lebih stabil atau normal.

Melihat kondisi tersebut, BMKG DIY mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Reni mengimbau agar berbagai langkah mitigasi segera dilakukan, mulai dari membersihkan saluran air untuk mengantisipasi banjir, memangkas dahan pohon yang rawan tumbang, hingga memastikan kekuatan tiang-tiang reklame atau baliho agar tidak roboh diterpa angin kencang.

Ia juga menekankan perlunya penyesuaian pola tanam, khususnya bagi para petani, agar tidak mengalami kerugian akibat anomali cuaca yang mungkin terjadi selama periode awal musim hujan.

Lebih lanjut, BMKG DIY juga memantau kondisi atmosfer dan laut yang saat ini menunjukkan sejumlah indikator penting. Angin Monsun Australia diketahui masih aktif, sedangkan fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada dalam kondisi netral, yang berarti tidak ada pengaruh kuat dari El Nino maupun La Nina. Selain itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), yang dapat memicu hujan lebat dalam skala luas, diprakirakan sedang tidak aktif di wilayah Indonesia.

Dengan mempertimbangkan seluruh kondisi tersebut, BMKG DIY meminta masyarakat untuk tidak lengah. Meski cuaca tampak cerah di pagi hari, potensi perubahan mendadak bisa terjadi dalam hitungan jam, terutama selama masa pancaroba.

Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk terus memantau informasi terbaru dari BMKG melalui kanal resmi, baik aplikasi InfoBMKG, situs web, maupun media sosial BMKG, guna memastikan keamanan dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang mungkin terjadi.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE