Geger! Rumah Prabowo Kebanjiran Karangan Bunga, Isinya Bukan Ucapan Selamat tapi Sindiran Soal Rokok Murah

Geger! Rumah Prabowo Kebanjiran Karangan Bunga, Isinya Bukan Ucapan Selamat tapi Sindiran Soal Rokok Murah
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Hari jadi pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ternyata dirayakan dengan cara yang cukup unik. Bukan pesta mewah atau seremoni formal, tapi justri karangan bunga.

Tapi jangan salah, isi pesannya bukan ucapan selamat.

Deretan karangan bunga terlihat memenuhi depan rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (21/10). Tulisan di papan-papan bunga ini justru berisi kritik pedas soal kebijakan pemerintah terkait harga rokok dan pengendalian tembakau.

Beberapa tulisan yang terbaca di lokasi cukup mencolok, seperti "Sembako makin mahal, rokok makin murah", "Rakyat butuh gizi, bukan rokok", sampai "Muhalkan rokok, murahkan sembako".

Pengirimnya pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari "Ibu 2 Korban Asap Rokok", "Guru UKS", hingga "Kami yang Berharap Sehat". Semuanya membawa pesan yang sama: desakan agar pemerintah lebih serius dalam mengatur harga dan konsumsi rokok di Indonesia.

Aksi karangan bunga ini diprakarsai oleh Komunitas Save Our Surrounding (SOS) yang ingin menyuarakan keresahan atas mandeknya implementasi kebijakan pengendalian tembakau. Salah satu sorotan utamanya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan yang hingga kini belum bisa dijalankan maksimal karena aturan teknisnya belum juga disahkan.

Ketua Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), Aryana Satrya, menyebut aksi ini sebagai bentuk sindiran kreatif atas lambatnya langkah pemerintah. Menurutnya, harga rokok yang masih sangat terjangkau, baik yang legal maupun ilegal, membuat banyak orang sulit untuk berhenti merokok. Hal ini berdampak langsung ke kondisi ekonomi keluarga, karena uang yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan penting seperti makan atau sekolah, malah habis untuk beli rokok.

Aryana juga menyoroti bagaimana rokok masih bebas berpromosi lewat berbagai media, termasuk acara musik, olahraga, hingga kolaborasi dengan publik figur. Di media sosial, promosi terselubung juga dinilai ikut mendorong remaja untuk mulai merokok. Ia menyayangkan minimnya pengawasan dan tindakan tegas dari pemerintah, sehingga PP 28 Tahun 2024 yang seharusnya melindungi justru kehilangan taring.

Lewat aksi ini, komunitas SOS ingin mengingatkan bahwa pengendalian tembakau bukan cuma soal kesehatan, tapi juga soal keadilan sosial. Karena pada akhirnya, yang paling terdampak dari kebijakan setengah hati adalah mereka yang ada di lapisan masyarakat paling bawah.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE