Benih Berkualitas Kunci Awal Biar Swasembada Pangan Nggak Cuma Jadi Wacana

R
Rivaldi Dani Rahmadi
Penulis
News
Benih Berkualitas Kunci Awal Biar Swasembada Pangan Nggak Cuma Jadi Wacana
Ilustrasi - (Dok. Pixabay/vietnguyenbui).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah target swasembada pangan bisa lebih cepat sebelum 2028. Tapi, buat nyampe ke sana nggak bisa asal-asalan, butuh strategi yang rapi dan terencana. Mau lewat perluasan lahan tanam atau ningkatin produktivitas, intinya sih bakal bergantung banget sama benih yang berkualitas.

Pakar pertanian dari Universitas Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Totok Agung Dwi Haryanto bilang kalua kunci awal biar swasembada pangan terwujud ya ketersediaan benih berkualitas.

"Sebenarnya pencapaian swasembada melalui ekstensifikasi atau perluasan area tanaman pangan seperti padi, jagung, dan sebagainya, kunci awalnya ada pada benih," kata Totok, dikutip Jumat (21/2).

Totok ngejelasin, benih yang bagus itu nggak cuma cukup jumlahnya, tapi juga harus berasal dari varietas unggul. Soalnya, kalau benihnya top, hasil panennya pun bakal sesuai harapan.

iklan gulaku

"Panen kemarin ada dilaporkan hasilnya tiga ton per hektare untuk padi. Menurut hemat saya, itu masih belum maksimal, masih bisa dicapai lebih dari itu, bisa jadi itu disebabkan oleh mutu benih maupun varietas unggul yang dikembangkan," ujar Totok.

Buat gambaran, satu hektare sawah butuh sekitar 25 kilogram benih. Jadi, kalau mau buka lahan baru seluas satu juta hektare, ya otomatis butuh 25 juta kilogram benih. Kalau benihnya nggak disiapin dengan baik, petani bakal asal pake benih seadanya yang beredar di pasar. Nah, ini yang bikin hasil panen nggak maksimal karena mutunya nggak terjamin.

"Ini fokus kepada benih memang perlu diperhatikan lebih dalam," tuturnya, dikutip dari Antara.

Totok juga ngingetin, biar swasembada pangan bukan cuma mimpi, subsidi buat petani itu harus dipertahanin dan difokusin dengan baik. Artinya, benih, pupuk, dan obat-obatan pertanian harus disediain pemerintah dengan harga yang terjangkau pas petani butuh.

"Kalau ini bisa dipegang juga, maka bukan hanya di lahan-lahan yang baru dibuka, tapi di lahan-lahan konvensional yang ada di Jawa, yang sudah dikenal subur itu intensifikasi lebih bisa dimaksimalkan, hasilnya bisa lebih banyak, indeks tanam dalam satu tahun bisa bertambah," imbuh Totok.

Selain subsidi, pemerintah juga kudu konsisten soal penyerapan gabah petani. Bulog harus nyerap gabah sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang udah ditetapin, yaitu 6.500 rupiah per kilogram buat gabah kering panen (GKP).

"Kalau waktunya tidak tepat, petani terlanjur menjual ke pasar, saya meyakini tidak akan mencapai harga 6.500 rupiah per kilogram, ini berarti dampak terhadap kesejahteraan petani akan berkurang. Maka tentu saja kerja sama dengan berbagai pihak seperti TNI dalam rangka mengoptimalkan penyerapan itu menjadi hal yang penting," ujar Totok.

Sementara itu, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa bilang kalua kunci utama swasembada pangan itu ya swasembada benih. Sayangnya, pasar dalam negeri masih dibanjiri benih impor.

"Saya cukup miris melihat fenomena ini, padahal kebergantungan benih akan menghambat pencapaian swasembada pangan," tegas Awan.

Awan nyaranin pemerintah buat lebih ketat soal impor benih. Harus ada aturan yang bikin benih lokal bisa berkembang dan menopang target swasembada.

Apalagi sekarang, katanya, banyak komunitas petani yang udah sukses ngebudidayain benih lokal berkualitas dengan karakteristik unik di berbagai daerah.

"Saya pikir benih lokal ini perlu didukung dan dikembangkan Pemerintah dengan memberikan pendampingan agar kualitasnya terjaga dan bisa diterima masyarakat," tutup Awan.

  • Tag:
  • Swasembada Pangan
  • Petani

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today
Contraflow Tol Japek Arah Jakarta Dihentikan Gegara Hal Ini
Rivaldi Dani Rahmadi