AS Siap Serang Fasilitas Nuklir Iran, Gunakan Bom Penghancur Bunker Raksasa
JAKARTA, GENVOICE.ID - Amerika Serikat dikabarkan memiliki rencana untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang paling terlindungi, dengan menggunakan bom penghancur bunker berkekuatan tinggi, menurut laporan Axios yang mengutip pejabat senior AS.
Dalam laporan yang dirilis Rabu (18/6), situs berita Axios mengutip seorang pejabat senior pemerintah AS yang mengatakan bahwa Washington memiliki kemampuan untuk melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran jika dianggap perlu.
"Kami akan siap menyerang Iran. Tapi kami belum yakin bahwa kami memang diperlukan," kata pejabat tersebut, seraya menambahkan, "Presiden belum yakin bahwa kami memang diperlukan."
Pejabat itu merujuk pada senjata penghancur bunker berkapasitas besar bernama Massive Ordnance Penetrator (MOP), sebuah bom seberat 30.000 pon yang dirancang untuk menghancurkan target bawah tanah yang diperkuat, termasuk fasilitas nuklir seperti Fordow milik Iran.
"Bom penghancur bunker itu akan berhasil. Ini bukan masalah kemampuan. Kami memiliki kemampuan. Tapi ada keseluruhan rencana. Ini bukan sekadar menjatuhkan penghancur bunker dan mendeklarasikan kemenangan," katanya.
Fasilitas nuklir Fordow, yang terletak di bawah gunung di Iran, dikenal sebagai salah satu situs paling terlindungi dalam program nuklir negara tersebut. Fasilitas ini dibangun untuk menahan serangan udara konvensional dan difungsikan sebagai lokasi pengayaan uranium.
Laporan Axios juga menyebut bahwa mantan Presiden AS, Donald Trump, pernah secara langsung menanyakan kepada penasihat militernya soal efektivitas MOP dan apakah senjata tersebut cukup untuk menetralisasi situs Fordow. Pentagon, menurut laporan itu, menyatakan keyakinannya terhadap efektivitas bom tersebut, namun Trump belum pernah memutuskan untuk melancarkan serangan semasa menjabat.
Sementara itu, Penasihat Keamanan Nasional Israel, Tzachi Hanegbi, dalam wawancara dengan Channel 12 pada Selasa (17/6), menyatakan bahwa Israel tidak akan menghentikan operasi militernya terhadap Iran tanpa merusak fasilitas nuklir Fordow.
Ia mengatakan bahwa Israel terus menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat, namun menekankan bahwa Tel Aviv tidak berupaya membujuk Washington untuk ikut serta dalam operasi militer terhadap Iran.
"Kami berdialog dengan AS, tapi kami tidak mencoba memaksakan keikutsertaan mereka," kata Hanegbi.
Pernyataan dari pejabat AS dan Israel muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, khususnya terkait aktivitas nuklir Iran dan kekhawatiran negara-negara Barat bahwa Teheran bisa mendekati kemampuan senjata nuklir.
Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya bersifat damai, namun berbagai laporan intelijen Barat menyebutkan bahwa negara itu terus memperkaya uranium hingga tingkat yang mendekati kebutuhan senjata.
IAEA dalam laporan terakhirnya menyatakan keprihatinan atas kurangnya transparansi Iran terkait aktivitas nuklir mereka.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!