Puluhan Warga Gaza Tewas dan Terluka Saat Cari Bantuan, PBB Buka Suara!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Badan-badan kemanusiaan PBB melaporkan krisis di Jalur Gaza terus memburuk, dengan warga sipil menjadi korban saat mencari bantuan di pusat distribusi yang dimiliterisasi.
Dilansir dari Antara, untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), puluhan orang dilaporkan tewas atau terluka pada Rabu (16/7) di salah satu pusat bantuan tersebut.
"Pada pekan lalu, dilaporkan bahwa orang-orang yang mencari bantuan masih terus mengalami luka-luka parah. WHO mencatat satu kasus di mana seorang pria berusia 21 tahun lumpuh seumur hidup setelah ditembak ketika berusaha mengambil sekantong tepung," ungkap OCHA.
WHO merujuk laporan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didirikan kelompok swasta AS dan didanai pemerintah AS. GHF diketahui mendirikan empat titik distribusi bantuan di zona militer Israel yang terlarang, di mana warga sipil yang kelaparan harus masuk melalui jalur berpagar di bawah pengawasan kontraktor bersenjata. Proses ini memicu kekacauan dan penembakan.
OCHA menyoroti dampak konflik berbulan-bulan terhadap kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dan lansia. Lebih dari 80 persen penyandang disabilitas kehilangan alat bantu, menghadapi diskriminasi, dan terpapar bahaya bahan peledak.
Dana Kependudukan PBB (UNFPA) juga melaporkan lonjakan kekerasan rumah tangga serta pelecehan seksual. Banyak ruang aman untuk perempuan dan anak terpaksa tutup atau beroperasi terbatas.
"Situasi di Gaza sangat mengerikan bagi wanita dan anak perempuan. Wanita hamil melahirkan dalam kegelapan, tanpa listrik dan tanpa perawatan medis," tegas UNFPA. Ribuan ibu mengalami kelaparan parah.
Doctors Without Borders menyebut telah merawat lebih dari 1.200 ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak dengan malnutrisi parah. Antara Mei-Juli, jumlah pasien meningkat empat kali lipat, termasuk ratusan balita.
Meski sejumlah kecil bahan bakar masuk lewat perbatasan Kerem Shalom pada Selasa (15/7), kekurangan akut masih menghambat operasi penyelamatan nyawa, pasokan air, serta layanan medis. Hampir semua lokasi pengungsian kini melaporkan orang tidur di ruang terbuka tanpa perlindungan.
"Situasi bencana ini harus segera diakhiri. Gencatan senjata sudah lama dinantikan," tegas OCHA, mendesak pembukaan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!