PBB Desak Israel untuk Dilarang di Sepak Bola Internasional, UEFA Siap Gelar Voting Penentuan

PBB Desak Israel untuk Dilarang di Sepak Bola Internasional, UEFA Siap Gelar Voting Penentuan
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Tekanan politik terhadap Israel dinilai tak lagi mempan, instrumen seperti olahraga kini mulai disorot. Panel pakar PBB menyerukan agar FIFA dan UEFA mengambil langkah tegas dengan membekukan Israel dari semua kompetisi sepak bola internasional, seperti yang sudah dilakukan terhadap Rusia dan Belarus setelah invasi ke Ukraina pada 2022.

Desakan itu datang dari delapan pakar independen PBB, termasuk Francesca Albanese, Special Rapporteur untuk situasi hak asasi manusia di Palestina. Mereka menilai FIFA dan UEFA tak bisa tinggal diam di tengah dugaan genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

UEFA merespons cepat. Dua hari setelah seruan PBB itu, mereka menyatakan siap menggelar pemungutan suara pekan depan mengenai kemungkinan melarang Israel tampil di kompetisi Eropa. Jika itu terjadi, timnas Israel dan klub-klub seperti Maccabi Tel Aviv akan dilarang tampil, termasuk dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Norwegia dan Italia.

Langkah ini bukan hal baru. Pada 1974, Israel pernah dikeluarkan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) setelah negara-negara Arab dan Muslim menolak bertanding melawan mereka. Sejak 1994, Israel menumpang ke UEFA, namun kini ancaman pengusiran kembali muncul dengan alasan yang sama: agresi terhadap Palestina.

Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi dilema besar. Ia ingin menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai ajang bersejarah dengan 48 tim peserta, namun tekanan publik kian memuncak. Jika UEFA menjatuhkan sanksi, FIFA akan dituduh bermuka dua bila tetap membiarkan Israel ikut serta, mengingat Rusia dan Belarus sudah lebih dulu diasingkan.

Situasi makin rumit setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump bersumpah menggagalkan rencana pengasingan ini. Washington menegaskan akan "menggunakan semua cara" untuk mencegah Israel diisolasi. Namun, sejumlah sumber di UEFA menyebut mayoritas dari 20 anggota Komite Eksekutif cenderung mendukung larangan tersebut.

Di lapangan, sentimen publik terhadap Israel semakin menguat. Suporter di berbagai stadion Eropa membentangkan spanduk "Stop Genocide in Gaza", mulai dari final Liga Champions di Muenchen hingga laga Liga Europa di Yunani. Bahkan pemerintah kota Amsterdam melarang tim olahraga dari daerah pendudukan Israel masuk ke Belanda.

Tekanan juga datang dari pemimpin politik, termasuk Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang secara terbuka mendesak agar Israel dilarang ikut kompetisi olahraga internasional demi mencegah arena olahraga dijadikan alat "membersihkan citra buruk".

Jika UEFA benar-benar menjatuhkan sanksi, konsekuensinya bisa meluas. FIFA hampir pasti akan ikut, dan gelombang isolasi mungkin berlanjut ke Komite Olimpiade Internasional (IOC). Itu berarti Israel bukan hanya terancam gagal tampil di Piala Dunia 2026, tetapi juga bisa kehilangan panggung Olimpiade.

Pekan depan, markas UEFA dipastikan jadi pusat perhatian dunia. Keputusan mereka bukan sekadar soal sepak bola, melainkan bisa menjadi titik balik dalam tekanan global terhadap Israel.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE