Idul Adha di Gaza Tak Lagi Sama, Warga Rayakan Hari Raya Tanpa Hewan Kurban

Idul Adha di Gaza Tak Lagi Sama, Warga Rayakan Hari Raya Tanpa Hewan Kurban
- (Dok. The New York Times).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Perayaan Idul Adha yang biasanya identik dengan kebersamaan keluarga dan tradisi penyembelihan hewan kurban kini berubah menjadi momen penuh kesedihan bagi banyak warga Gaza. Di tengah dampak perang yang berkepanjangan dan krisis kemanusiaan yang belum mereda, sebagian besar masyarakat di Jalur Gaza bahkan tidak lagi mampu membeli hewan kurban.

Bagi Ahmed Nashwan, warga Palestina yang tinggal di Gaza, Idul Adha tahun ini menjadi tahun ketiga tanpa tradisi yang selama ini melekat dalam keluarganya. Ia mengaku sudah tidak lagi pergi ke pasar ternak bersama saudara dan anak-anaknya untuk memilih hewan kurban seperti tahun-tahun sebelum perang.

"Sebelum perang, Idul Adha selalu menjadi momen bahagia bagi keluarga kami," ujar Nashwan kepada Xinhua. Ia mengenang suasana ketika keluarga besar berkumpul untuk mempersiapkan hari raya dan membagikan daging kurban kepada kerabat maupun warga kurang mampu.

Kini suasana itu telah berubah drastis. Menurut Nashwan, Idul Adha di Gaza hanya tersisa doa dan kenangan. Sulitnya akses pangan dan minimnya pasokan ternak membuat tradisi kurban hampir mustahil dilakukan oleh sebagian besar warga.

Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel sempat tercapai pada Oktober 2025, pembatasan ketat di Jalur Gaza masih berlangsung. Kondisi tersebut menyebabkan arus barang masuk menjadi sangat terbatas, termasuk hewan ternak seperti sapi dan domba yang biasanya tersedia menjelang Idul Adha.

Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, mengatakan harga hewan kurban melonjak tajam sejak perang berlangsung. Jika sebelum konflik seekor hewan kurban dijual sekitar 500 dolar AS, kini harganya mencapai 6.000 hingga 7.000 dolar AS atau setara puluhan juta rupiah.

Lonjakan harga itu membuat hewan kurban berada di luar jangkauan sebagian besar masyarakat Gaza yang kini juga kehilangan pekerjaan, rumah, hingga sumber pendapatan mereka.

Kondisi serupa dirasakan Mohammed al-Hissi, ayah empat anak asal Gaza City. Ia mengatakan Idul Adha dulunya selalu menjadi waktu paling membahagiakan bagi keluarganya. Anak-anaknya biasa mengenakan pakaian baru dan ikut membagikan daging kurban kepada kerabat.

Namun perang membuat semuanya berubah. Menurutnya, masyarakat kini lebih fokus mencari makanan sehari-hari dibanding memikirkan membeli hewan kurban.

Di wilayah selatan Gaza, Mohammed Shallah mengenang mendiang ayahnya yang tewas akibat serangan udara Israel di Khan Younis. Pemuda berusia 22 tahun itu mengaku sedih karena tidak lagi mampu melanjutkan tradisi kurban yang dahulu selalu dijalankan keluarganya.

Sementara itu, pedagang ternak Salah Afana mengungkapkan banyak hewan ternak mati akibat serangan udara, kelangkaan pakan, dan lumpuhnya layanan kesehatan hewan. Penutupan jalur perbatasan juga membuat pasokan ternak baru tidak bisa masuk ke Gaza.

Juru bicara Kementerian Pertanian Gaza, Raafat Asaliya, menyebut sebelum perang wilayah tersebut biasanya menerima puluhan ribu sapi dan domba setiap tahun menjelang Idul Adha. Namun sejak perang berlangsung, impor ternak berhenti total.

Selain pasokan yang terputus, banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan di Gaza turut hancur akibat konflik. Hal itu semakin memperparah krisis hewan kurban di wilayah tersebut.

"Warga Gaza sudah tiga tahun berturut-turut menjalani Idul Adha tanpa kurban," ujar al-Tabbaa. "Tidak ada yang tahu sampai kapan kondisi ini akan terus berlangsung."

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE