Perfeksionisme Bisa Bikin Depresi? Ini 5 Alasan Kenapa Itu Bisa Terjadi!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Banyak orang berpikir kalau jadi perfeksionis itu keren. Bisa ngerjain sesuatu dengan sempurna, selalu lebih dari ekspektasi, dan nggak pernah salah. Tapi, sadar nggak sih kalau sikap ini juga bisa jadi pedang bermata dua? Tanpa disadari, perfeksionisme bisa bikin stres, kecemasan, bahkan depresi. Obsesi untuk selalu tampil sempurna sering kali malah menjebak seseorang dalam tekanan mental yang berat. Kok bisa? Yuk, kita bahas bareng!
Dilansir dari Antara, berikut adalah beberapa alasan kenapa perfeksionisme bisa berdampak buruk pada kesehatan mental:
1. Standar Terlalu Tinggi, Ujungnya Malah Frustasi
Orang perfeksionis sering kali punya ekspektasi super tinggi buat diri sendiri. Nggak peduli seberapa keras mereka berusaha, rasanya selalu kurang. Kalau terus-terusan merasa belum cukup baik, ujung-ujungnya bakal stres dan frustasi. Bukannya puas, yang ada malah burnout dan sedih berkepanjangan.
2. Takut Gagal, Jadi Sering Menunda
Pernah nggak sih ngerasa takut memulai sesuatu karena takut hasilnya nggak sempurna? Nah, ini salah satu jebakan perfeksionisme. Karena terlalu takut gagal, akhirnya malah menunda-nunda. Tapi makin ditunda, makin stres karena deadline makin dekat. Ujungnya? Panik, cemas, dan makin tertekan.
3. Harga Diri Bergantung pada Prestasi
Buat orang perfeksionis, pencapaian itu segalanya. Kalau sukses, mereka merasa berharga. Tapi begitu gagal? Langsung merasa nggak berguna. Ini bahaya, karena harga diri nggak seharusnya cuma diukur dari kesuksesan. Kalau terus-terusan berpikir seperti ini, gampang banget jatuh ke rasa rendah diri dan akhirnya depresi.
4. Selalu Mengejar Target Baru Tanpa Jeda
Nggak peduli seberapa banyak yang udah dicapai, rasanya nggak pernah cukup. Selalu ada target baru yang harus dikejar. Tanpa waktu untuk menikmati hasil kerja keras, hidup jadi terasa melelahkan. Lama-lama, stres ini bisa berubah jadi kelelahan mental yang bikin kita kehilangan semangat hidup.
5. Takut Mengecewakan Orang Lain
Perfeksionis sering kali merasa bertanggung jawab buat memenuhi ekspektasi orang lain, baik itu keluarga, teman, atau atasan. Beban ini bisa bikin mereka merasa tertekan setiap saat. Ketika merasa gagal, muncul rasa malu, kecewa, bahkan merasa sendirian. Inilah yang bisa memicu perasaan depresi.
Jadi, Haruskah Kita Berhenti Jadi Perfeksionis?
Nggak harus! Tapi penting buat belajar menetapkan batasan. Jangan biarkan keinginan untuk sempurna malah menghancurkan kesehatan mentalmu. Coba lebih realistis dalam menetapkan target, nikmati progres yang sudah dicapai, dan jangan takut untuk gagal. Ingat, kesempurnaan itu bukan segalanya, yang penting adalah keseimbangan antara usaha dan kebahagiaan!
0 Comments





- Heboh! Isu Emas Antam Palsu Beredar, Ini Faktanya!
- Nikmati Berbuka Puasa Istimewa di Hotel Ciputra Cibubur dengan Ramadan Buffet Iftar
- Menjelajahi Keindahan dan Sejarah Bibi-Heybat Mosque di Azerbaijan
- Dramatis! Declan Rice Gagalkan Kemenangan MU di Old Trafford
- Viral! ABG di Pemalang Ancam Ibu dengan Sajam Karena Tak Dibeli Skincare
- Resep Sambal Geprek yang Lezat dan Bikin Ketagihan
- 5 Tips Mudah Memulai Investasi untuk Mahasiswa
- Presiden Prabowo Lantik Pejabat Baru, Isu Reshuffle Mendikti Menguat
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!