Rupiah Diramal Sulit Kembali ke Bawah Rp 17.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Rupiah Sentuh Rp 17.596, Ekonom Sebut Level Rp 17.000 Jadi Keseimbangan Baru
JAKARTA, GENVOICE.ID -Tekanan terhadap mata uang Garuda tampaknya masih belum mereda setelah nilai tukar rupiah diprediksi akan sangat sulit untuk kembali menekuk dolar AS ke bawah level Rp 17.000.
Berada jauh dari target asumsi makro APBN 2026 yang sebesar Rp 16.500, posisi rupiah saat ini dinilai para ekonom tengah membentuk level keseimbangan baru akibat rentetan sentimen negatif.
Mulai dari konflik geopolitik global yang memicu lonjakan harga minyak hingga kekhawatiran pasar terhadap pembengkakan defisit anggaran di dalam negeri.
Faktor Penyebab dan Level Keseimbangan Baru
Sejumlah pengamat ekonomi menilai bahwa penguatan dolar AS saat ini berpotensi menjadi standar baru bagi pergerakan mata uang nasional.
-
Keseimbangan Baru: Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, mengungkapkan bahwa rupiah akan sangat sulit untuk kembali menembus ke bawah level Rp 17.000. Posisi Rp 17.000-an diprediksi akan menjadi titik keseimbangan baru (new equilibrium). Penguatan maksimal rupiah diperkirakan hanya akan tertahan di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.200, itu pun jika kebijakan intervensi Bank Indonesia (BI) berjalan efektif.
-
Sentimen Global & Geopolitik: Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa pemicu utama pelemahan ini adalah konflik geopolitik antara AS dan Iran yang mengganggu pasokan minyak di Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak dunia ini menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
-
Sentimen Domestik: Investor cenderung menarik modal mereka keluar dari pasar domestik (capital outflow) akibat kekhawatiran terhadap pengelolaan anggaran negara yang ekstrem hingga memicu defisit mendekati 3%, ditambah adanya polemik di pasar modal dalam negeri.
Rekomendasi Langkah dari Pengamat
Untuk menjaga kepercayaan pasar dan memitigasi dampak yang lebih luas, para ekonom menyarankan beberapa langkah strategis:
-
Revisi Target APBN: Pemerintah disarankan melonggarkan atau mengubah kerangka asumsi makro APBN 2026 agar lebih realistis dengan kondisi riil di lapangan.
-
Transparansi Fiskal: Menyampaikan proyeksi arah kebijakan fiskal yang jelas hingga akhir tahun guna menenangkan para pelaku bisnis dan investor.
-
Efisiensi dan Kebijakan Moneter: Mengurangi pengeluaran anggaran yang dinilai non-esensial serta mendesak Bank Indonesia untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan.
Kondisi pelemahan nilai tukar yang terus berlanjut ini tentu menjadi tantangan besar bagi stabilitas harga barang impor dan sektor industri nasional hingga akhir tahun.
Menurut analisis Gen, apakah langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga akan cukup ampuh meredam keperkasaan dolar AS di tengah situasi geopolitik yang memanas saat ini?
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!