Rupiah Melemah ke Rp17.858, Penguatan Dolar AS Bikin Harga Emas Dunia Turun
Penguatan Indeks Dolar AS kembali memberi tekanan pada rupiah dan harga emas dunia, sementara pelaku pasar menanti arah kebijakan ekonomi global.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin (29/6/2026) pagi. Mata uang Garuda diperdagangkan di level Rp17.858,3 per dolar Amerika Serikat (AS) atau turun sekitar 1,6 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia itu tercatat naik tipis ke level 101,155 sehingga memberikan tekanan pada berbagai mata uang global.
Pergerakan Rupiah terhadap Mata Uang Asia dan Eropa
Meski demikian, rupiah masih mampu menunjukkan penguatan terhadap beberapa mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang tercatat melemah 0,33 persen terhadap rupiah menjadi Rp110,36, sedangkan dolar Singapura turun 0,37 persen ke posisi Rp13.789,58.
Selain itu, yuan Tiongkok juga terkoreksi 0,40 persen menjadi Rp2.623,92. Baht Thailand mengalami pelemahan sebesar 0,48 persen ke level Rp534,31, sementara won Korea Selatan menjadi mata uang yang mengalami penurunan terdalam terhadap rupiah, yakni sebesar 0,82 persen ke posisi Rp11,57.
Di sisi lain, euro ikut terkoreksi sekitar 0,18 persen menjadi Rp20.352 per euro. Berbeda dengan mata uang lainnya, ringgit Malaysia justru mencatat penguatan tipis sekitar 0,07 persen terhadap rupiah hingga berada di level Rp4.384,76.
Harga Emas Dunia Ikut Tertekan
Penguatan dolar AS juga memberikan dampak terhadap pasar komoditas, terutama emas dunia. Harga logam mulia itu turun sebesar USD23,34 atau sekitar 0,57 persen sehingga berada di level USD4.065,92 per troy ons.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang global maupun harga komoditas. Ketika dolar menguat, aset lindung nilai seperti emas cenderung mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Pelaku Pasar Menanti Sentimen Ekonomi Global
Pelaku pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi global serta keputusan bank sentral yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan nilai tukar, harga komoditas, dan sentimen investasi dalam beberapa waktu ke depan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!