Rupiah Melemah ke Rp16.970 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar

Rupiah Melemah ke Rp16.970 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar
- (Dok. ANTARA News).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan awal pekan di Jakarta, Senin (16/3). Mata uang Indonesia itu turun 12 poin atau sekitar 0,07 persen ke level Rp16.970 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp16.958 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi sentimen pasar global.

Menurutnya, konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Ketegangan di kawasan itu meningkat setelah Gedung Putih menyampaikan bahwa skala serangan terhadap Iran telah meningkat melampaui perkiraan sebelumnya. Selain itu, Pentagon juga dilaporkan mengirimkan unit ekspedisi Marinir ke wilayah tersebut sebagai bagian dari respons terhadap perkembangan situasi keamanan.

Eskalasi konflik tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan Jumat (13/3), harga minyak jenis Brent tercatat naik sekitar 2,67 persen hingga mencapai 103,14 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak biasanya memperkuat posisi dolar AS karena meningkatnya permintaan global terhadap mata uang tersebut, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, penguatan dolar sempat tertahan setelah rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat. Data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal IV 2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen secara kuartalan dari estimasi sebelumnya sebesar 1,4 persen.

Revisi tersebut menunjukkan tanda-tanda perlambatan pada perekonomian Negeri Paman Sam. Kondisi ini sempat mengurangi tekanan penguatan dolar di pasar global.

Sementara itu, indikator inflasi yang menjadi acuan utama kebijakan moneter Federal Reserve, yakni PCE Price Index, tercatat turun tipis menjadi 2,8 persen secara tahunan pada Januari 2026 dari 2,9 persen pada bulan sebelumnya.

Di sisi lain, Core PCE Price Index justru mengalami kenaikan kecil menjadi 3,1 persen secara tahunan dari sebelumnya 3,0 persen.

Josua memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan berada dalam rentang Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik yang belum mereda serta sikap investor yang cenderung menunggu perkembangan baru menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Selain itu, pelaku pasar juga mulai mengantisipasi periode libur panjang di Indonesia yang akan dimulai pada Rabu (18/3), sehingga aktivitas transaksi cenderung lebih berhati-hati.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE