Rupiah Makin Terpuruk, Benarkah Bisa Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS?

Pelemahan rupiah makin jadi sorotan setelah nilainya menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS.

Rupiah Makin Terpuruk, Benarkah Bisa Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS?
Nilai Tukar Rupiah - (Dok. ANTARA).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah melemah hingga menyentuh angka Rp17.513 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan tersebut menjadi level terendah sepanjang sejarah dan memicu kekhawatiran besar terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Tekanan terhadap rupiah dinilai tidak muncul secara tiba-tiba karena sejak awal 2026 mata uang Indonesia memang sudah menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Arus modal asing yang keluar dari pasar domestik disebut terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan konflik geopolitik yang memanas.

Salah satu faktor terbesar yang menekan rupiah berasal dari perang di Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat harga minyak mentah melonjak tajam sehingga berdampak besar bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Kenaikan harga minyak membuat kebutuhan dolar AS untuk impor bahan bakar ikut meningkat drastis. Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin sulit untuk bangkit.

Analis menilai Bank Indonesia kini berada dalam posisi sulit antara menjaga stabilitas rupiah atau mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional. Meski inflasi domestik masih relatif terkendali, tekanan terhadap nilai tukar membuat pasar mulai meragukan efektivitas kebijakan moneter yang diterapkan saat ini.

Bank Indonesia disebut telah melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menahan pelemahan rupiah. Intervensi di pasar valuta asing hingga penerbitan instrumen keuangan dilakukan, namun tekanan global dinilai terlalu besar untuk diredam hanya dengan langkah jangka pendek.

Cadangan devisa Indonesia juga dilaporkan terus mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kestabilan rupiah semakin terbatas.

Selain faktor eksternal, kondisi domestik juga ikut menjadi perhatian investor asing. Keputusan MSCI yang menghapus sejumlah saham Indonesia dari indeks global dinilai memperburuk sentimen pasar terhadap iklim investasi di Indonesia.

Banyak investor global mulai mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia karena khawatir terhadap transparansi dan stabilitas ekonomi nasional. Kondisi tersebut membuat aliran dolar AS ke pasar domestik semakin menurun sehingga tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Sejumlah analis bahkan memprediksi rupiah masih berpotensi melemah lebih jauh apabila konflik global terus memanas. Dalam skenario terburuk, nilai tukar rupiah disebut bisa menembus level Rp18 ribu hingga Rp18.300 per dolar AS apabila harga minyak dunia terus melonjak.

Tekanan terhadap rupiah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha di berbagai sektor. Harga barang impor seperti elektronik hingga obat-obatan diperkirakan akan mengalami kenaikan apabila pelemahan rupiah terus berlangsung dalam jangka panjang.

Di media sosial, banyak warganet juga mulai membahas kemungkinan rupiah melemah lebih parah dalam beberapa bulan mendatang. Sebagian warganet bahkan mengaitkan kondisi tersebut dengan kebijakan fiskal pemerintah dan situasi politik global yang belum stabil.

Meski begitu, sejumlah pihak menilai kondisi saat ini masih berbeda dengan krisis moneter 1998. Sistem perbankan Indonesia disebut jauh lebih kuat dibandingkan masa lalu, meskipun ancaman perlambatan ekonomi tetap perlu diwaspadai.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE