Dolar Tembus Rp 17.500, Jadi yang Paling Parah Sepanjang Sejarah?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (12/5), mata uang Garuda tercatat melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS, sebuah posisi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perdagangan rupiah secara intraday.
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.505 per dolar AS atau melemah lebih dari 0,5 persen. Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren tekanan terhadap rupiah yang sudah berlangsung sejak awal tahun.
Kondisi tersebut membuat publik kembali mengingat sejumlah periode kelam dalam perjalanan rupiah, mulai dari krisis moneter 1998 hingga guncangan global akibat pandemi Covid-19 dan konflik geopolitik dunia.
Fase paling buruk bagi rupiah sebelumnya terjadi pada masa krisis ekonomi dan politik 1998. Saat itu, nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp16.800 per dolar AS dalam perdagangan intraday setelah kerusuhan besar dan jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto memicu kepanikan pasar.
Namun, tekanan kali ini dinilai berbeda karena dipengaruhi kombinasi faktor global yang semakin kompleks. Ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga tingginya suku bunga AS membuat investor global berbondong-bondong memburu dolar AS sebagai aset aman.
Sepanjang sejarah, rupiah memang beberapa kali mengalami pelemahan tajam. Pada 1997, Indonesia dihantam krisis moneter Asia yang membuat pemerintah akhirnya meminta bantuan Dana Moneter Internasional atau IMF. Nilai tukar rupiah kala itu merosot drastis dari kisaran Rp2.500 menjadi lebih dari Rp3.000 per dolar AS hanya dalam waktu singkat.
Tekanan besar juga kembali muncul pada 2008 ketika krisis finansial global meledak akibat runtuhnya Lehman Brothers di AS. Rupiah yang sebelumnya stabil di level Rp9.000-an langsung tergelincir ke kisaran Rp12.000 per dolar AS karena arus modal asing keluar dari negara berkembang.
Pada 2015 dan 2018, pelemahan rupiah kembali terjadi akibat kebijakan suku bunga bank sentral AS dan gejolak pasar emerging market. Situasi serupa terulang saat pandemi Covid-19 pada 2020, ketika rupiah sempat menyentuh Rp16.550 per dolar AS akibat kepanikan pasar global.
Memasuki 2025 hingga 2026, tekanan terhadap rupiah semakin intens. Kebijakan tarif agresif Presiden AS Donald Trump, penguatan indeks dolar, serta ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve membuat mata uang negara berkembang terus tertekan.
Konflik terbaru antara AS, Israel, dan Iran juga ikut memperburuk situasi. Pernyataan Trump yang menyebut peluang gencatan senjata dengan Iran berada "di ujung tanduk" memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
Iran sendiri disebut menolak proposal perdamaian dari Washington dan tetap menuntut penghentian konflik secara menyeluruh, termasuk pencabutan blokade laut AS serta pemulihan ekspor minyak mereka. Ketegangan di Selat Hormuz pun kembali menjadi sorotan karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Di tengah kondisi itu, dolar AS kembali menguat dan membuat tekanan terhadap rupiah semakin sulit dibendung. Bank Indonesia sebelumnya telah mempertahankan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi gejolak eksternal masih menjadi tantangan utama.
Meski begitu, sejumlah analis menilai kondisi saat ini belum sepenuhnya bisa disamakan dengan krisis 1998. Fundamental perbankan Indonesia dinilai jauh lebih kuat dibanding era krisis moneter, sementara cadangan devisa dan sistem keuangan domestik juga relatif lebih siap menghadapi volatilitas global.
Namun, level Rp17.500 per dolar AS tetap menjadi alarm serius karena menunjukkan tekanan terhadap rupiah kini memasuki babak baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!