Rupiah Kembali Melemah saat Lebaran Idul Fitri, Ada Pengaruh ke Harga Hewan Kurban?

Rupiah Kembali Melemah saat Lebaran Idul Fitri, Ada Pengaruh ke Harga Hewan Kurban?
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi (27/5). Mata uang Garuda bahkan sempat menembus level Rp17.800 per dolar AS di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang justru menguat.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di posisi Rp17.834 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 0,21 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang tercatat di level Rp17.796 per dolar AS.

Kondisi ini membuat rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pagi itu. Hingga sekitar pukul 09.04 WIB, hanya peso Filipina yang ikut berada di zona merah setelah turun tipis terhadap dolar AS.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru bergerak positif. Won Korea Selatan mencatat penguatan paling besar setelah naik sekitar 0,27 persen. Baht Thailand, dolar Taiwan, yuan China, hingga dolar Singapura juga ikut terapresiasi terhadap dolar AS.

Pelemahan rupiah kembali menjadi sorotan publik karena terjadi menjelang momentum Hari Raya Iduladha dan meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat. Kondisi kurs mata uang asing sering kali dikaitkan dengan potensi kenaikan harga sejumlah komoditas, termasuk pangan dan hewan kurban.

Meski harga sapi dan kambing kurban di Indonesia lebih banyak dipengaruhi faktor domestik seperti distribusi, stok ternak, serta biaya pakan, pelemahan rupiah tetap dapat memberikan efek tidak langsung. Salah satunya melalui kenaikan harga barang impor pendukung sektor peternakan, termasuk obat hewan hingga bahan baku pakan tertentu.

Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah juga dapat memengaruhi psikologi pasar dan daya beli masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, momen Iduladha memang kerap diiringi kenaikan harga hewan kurban akibat tingginya permintaan.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat menanggapi pergerakan dolar AS yang mendekati level Rp17.800. Ia menyebut angka tersebut tidak masuk akal jika melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Pergerakan rupiah belakangan juga dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari arah kebijakan suku bunga AS, kondisi geopolitik internasional, hingga arus modal asing di pasar keuangan Asia.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE