Rupiah Tembus Rp 17.300 per Dolar AS, Kekhawatiran Publik soal Dampak Ekonomi Meningkat
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Kamis pagi (23/4), mata uang Garuda sempat menyentuh kisaran Rp 17.300 per dolar AS, bahkan tercatat berada di sekitar Rp 17.305 dalam sejumlah data pasar.
Berdasarkan pemantauan dari Refinitiv dan Bloomberg pada pukul 09.00 hingga 10.30 WIB, rupiah melemah sekitar 0,7 persen hingga 0,79 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Level ini menjadi salah satu titik terlemah secara intraday sepanjang sejarah, bahkan terjadi lebih cepat dari perkiraan sejumlah analis.
Pelemahan ini langsung menjadi perhatian publik, terutama di media sosial. Banyak warganet menyoroti potensi dampaknya terhadap harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat yang dikhawatirkan semakin tertekan.
Dari sisi otoritas, Bank Indonesia menyebut tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara terpisah. Mata uang di kawasan Asia juga mengalami pelemahan seiring meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik yang masih berlangsung.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan tren regional. Ia juga menegaskan bahwa bank sentral akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui berbagai instrumen pasar.
Upaya tersebut mencakup intervensi di pasar offshore melalui non-deliverable forward (NDF), intervensi di pasar domestik baik spot maupun DNDF, hingga pembelian surat berharga negara di pasar sekunder. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan daya tarik aset domestik.
Meski rupiah tertekan, kondisi cadangan devisa Indonesia dinilai masih kuat. Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat mencapai sekitar 148,2 miliar dolar AS. Angka tersebut dianggap cukup untuk mendukung ketahanan sektor eksternal.
Di sisi lain, reaksi masyarakat di media sosial menunjukkan beragam perspektif. Sebagian warganet mengaku khawatir karena pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang, terutama yang bergantung pada impor.
Namun, ada juga yang melihat kondisi ini dari sisi berbeda. Mereka yang memiliki penghasilan atau tabungan dalam dolar justru merasa diuntungkan karena nilai tukar yang lebih tinggi.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana fluktuasi nilai tukar tidak hanya berdampak pada indikator ekonomi makro, tetapi juga langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global serta respons kebijakan domestik. Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan mampu menjaga stabilitas agar dampaknya tidak semakin meluas ke sektor riil.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!